Tampilkan postingan dengan label tridentina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tridentina. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 September 2010

Foto TLM Bandung 26 Sept 2010

Foto-foto atas kebaikan hati Mea Culpa.
Reportase menyusul.



Persiapan Altar


Doa di kaki altar

Confiteor server (usai Confiteor imam)

Offertory

Elevasi Tubuh Tuhan
Elevasi Piala
Komuni umat

Schola Cantorum

Proficiat untuk rekan-rekan semua... Viva Sancta Missa Tridentina!
Read more ...

Jumat, 24 September 2010

Proper misa Bandung 26 Sept 2010

Proper Misa "Da pacem" -Minggu kedelapan belas setelah Pentakosta
Bandung, 26 September 2010


baca online:
Proper Minggu Ke 18 Stlh Pentakosta - TLM Bandung 26092010
Read more ...

Rabu, 01 September 2010

Ordo Missae 1962 Latin-Indo (sudah direvisi)

Revisi terjemahan dan tata letak Ordo Missae menurut Missale Romanum 1962 (yang dipromulgasikan oleh Bapa Suci Yohanes XXIII) sudah selesai.
Revisi terjemahannya diupayakan sedekat mungkin dengan versi latinnya, dengan tetap diusahakan tidak menghilangkan unsur puitis yang khas bahasa latin.

Beberapa tambahan untuk revisi kali ini:
  • Panduan tata gerak untuk umat, mengacu pada Missa Solemnis (high mass)
  • Asperges (antifon pemercikan air suci pada masa selain Paskah) dan Vidi Aquam (antifon pemercikan air suci pada masa Paskah) dimasukkan di halaman 1 dan 2. 
  • Terjemahan Injil terakhir, disertakan pada halaman belakang
  • Terjemahan doa Leonine (Salam Maria, Salve Regina, dan doa kepada St. Mikael), disertakan
  • Doa rosario dalam bahasa latin, termasuk peristiwa terang.


Semoga terjemahan ini bisa digunakan untuk keperluan internal pelaksanaan misa forma ekstraordinaria di Indonesia.


Preview:


Asperges Me

Download via Scribd (klik)


Baca online:
Ordo Missae 1962 Latin-Indo Rev1.4
Read more ...

Selasa, 31 Agustus 2010

Laporan dari Bandung: Misa Ekstra Ordinaria, 29 Agustus 2010

Laporan dan foto dari Mea Culpa.

Bandung
Misa dalam forma ekstraordinaria (Tridentina / tridentinum) yang ketiga di Bandung, dilaksanakan di kapel Gereja Mahasiswa (GEMA), pukul 17 di Jl. Sultan Agung no. 4 Bandung.
Dihadiri oleh sekitar 80 orang, misa peringatan pemenggala kepala St. Yohanes Pembaptis ini dipimpin oleh imam dari Keuskupan Agung Jakarta (yang dengan halus meminta supaya namanya tetap anonim).

Berikut foto-foto dokumentasi (atas kebaikan hati Mea Culpa):


Altar


Aufer a nobis (imam melangkah ke altar, dan membaca doa ini)

Komuni (umat menerima di lidah, dan berlutut)


PS:
- berhubung privacy imam selebran, sebagian besar foto yang menampakkan wajah imam dihapus oleh redaksi.
Read more ...

Minggu, 27 Juni 2010

Persiapan Revisi Teks Misa 1962 (Latin-Indo)

Yth rekan-rekan,

Sesuai permintaan mas Rudy, berikut hasil sementara revisi teks misa untuk tata liturgi Ekstra Ordinaria.
(sementara ini terjemahan masih macet pada Misa Umat Beriman).


Revisi dilakukan pada:
- Terjemahan bahasa Indonesia
- Tambahan tanda baca pada teks latin, mengikuti Missale 1962
- Perubahan lay out halaman (tambahan garis pembatas teks misa Latin dan teks Indo)
- Penambahan drop cap (huruf pertama paragraf diperbesar, biar ada gaya klasik sedikit)


Usulan dan macam-macam kritik, silahkan tulis di bawah, atau email saya di missa1962@gmail.com


PS:
- Mohon maklum, terjemahan Ritus Servandus masih macet di bab 9. Too many work, so many worker :D


(klik pada gambar untuk melihatnya full size):
Read more ...

Minggu, 20 Juni 2010

Misa Tridentina Jakarta Barat, 10 Juli

10 Juli 2010
Peringatan Martir St. Rufina dan Secunda

Warna Liturgi: Merah

Rufina dan adiknya Secunda adalah anak-anak dari seorang Senator Romawi. Mereka dibunuh secara kejam kira-kira pada tahun 257, selama masa penganiayaan orang-orang Kristen oleh kaisar Valerianus (253-260).

Menurut tradisi, Rufina dan Secunda bertunangan dengan dua orang pemuda beragama Kristen.
Rufina bertunangan dengan Armentarius dan Secunda dengan Verinus. Selama masa penganiayaan, kedua lelaki Kristen itu dengan semangat menyebarkan agama Kristen.
Rufina dan Secunda sebaliknya enggan melakukan hal itu.

Kedua bersaudara itu pergi ke Roma dan di sana mereka ditangkap dan dipenjarakan.
Tak satu siksaan pun mampu mematahkan ketetapan hati dan keteguhan iman mereka.
Karena itu akhimya mereka dibunuh. Jenazah mereka dimakamkan di basilika Santo Yohanes Lateran, Gereja Katedral kota Roma.

Sumber: Buku ‘Orang Kudus Sepanjang Tahun’ yang disusun oleh Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM. Diterbitkan oleh Penerbit OBOR, Jakarta, Tahun 2008 (seperti yang dikutip oleh Katedral Purwokerto)

===============

Lokasi Misa: 
INTI College,
Jalan Arjuna Utara No. 35 Kel. Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
(turun pintu tol Kebon Jeruk) (klik untuk melihat peta)



 Ordinarium:

 Proper Misa:

Undangan:
Read more ...

Rabu, 09 Juni 2010

HR. Hati Yesus yang Maha Kudus: Jumat setelah Oktaf Tubuh dan Darah

Jumat, 11 Juni 2010
Hari Raya Kati Yesus yang Maha Kudus - Pesta kelas 1 (Perayaan wajib)

Warna liturgi: Putih

Proper missa (dari Virgo Mater Die, klik ini)



(sumber ilustrasi: lupa, diberi teman)



Sejarah

Devosi kepada Hati Kudus Yesus berasal kira-kira dari abad ke-11, yang hingga abad 16 masih merupakan devosi pribadi.

Pesta pertama Hati Kudus dirayakan pada tanggal 31 Agustus 1670, di Rennes, Prancis, melalui upaya P. Jean Eudes (1602-1680).
Dari Rennes, devosi ini menyebar ke mana-mana.
Tapi baru hingga penglihatan yang dialami oleh St Margaret Maria Alacoque (1647-1690) devosi ini menjadi universal ke seluruh Gereja.

Penampakan "besar" yang berlangsung pada tanggal 16 Juni 1675, selama oktaf dari Hari Raya Corpus Christi, menjadi dasar dari Pesta Hati Kudus yang kita peringati hingga hari ini.
Dalam visi itu, Kristus memerintahkan St Margaret Maria Alacoque untuk melaksanakan Pesta Hati Kudus yang dirayakan pada hari Jumat setelah oktaf (hari kedelapan) dari Hari Raya Corpus Christi (HR. Tubuh dan Darah), sebagai ungkapan terima kasih manusia bagi Kurban yang telah dipersembahkan Kristus untuk manusia.
Hati Kudus tidak hanya merupakan Hati-Nya secara fisik, tetapi juga kasih-Nya bagi seluruh umat manusia.

Devosi kepada Hati Kudus makin populer setelah kematian St Margaret Maria Alacoque pada tahun 1690.
Gereja pada awalnya meragukan keabsahan visi St Margaret Maria Alacoque, hingga tahun 1765 pesta itu dirayakan secara resmi di Perancis.

Hampir 100 tahun kemudian, tahun 1856, Paus Pius IX, atas permintaan para uskup Perancis, memperluas pesta tersebut ke Gereja universal.

Umat beriman, umumnya bersiap merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Maha Kudus dengan novena yang dimulai sejak Hari Raya Tubuh dan Darah.


Referensi:
St. Margareta Maria Alacoque (bhs Indo, dari Yesaya)
Devosi kepada Hati Kudus (newadvent)

Sacred Heart (wikipedia)


Ensiklik:




 (Ilustrasi: dari St. Joseph Daily Missal)

    Read more ...

    Rabu, 02 Juni 2010

    HR. Tubuh dan Darah Tuhan: hari ke 60 setelah Paskah

    Kamis 3 Juni, Pesta kelas 1 (Hari Raya wajib).
    Warna liturgi: Putih

    Proper misa dapat dilihat di sini (Virgo Mater Die)


    (illustrasi: Michael Camille, Gothic Art: Glorious Visions, New York; Abrams 1996)


    Sejarah

    Pesta Corpus Christi (nama lengkapnya: Corpus et Sanguis Christi), atau Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (dinamakan demikian kini), bisa ditelusuri asal-usulnya kembali ke abad ke-13.
    Akan tetapi pesta ini merayakan sesuatu yang jauh lebih tua: institusi Sakramen Perjamuan Kudus di malam perjamuan terakhir.

    Pada 1246, Uskup Robert de Thorete dari keuskupan Belgina dari Liège, atas saran biarawati Juliana dari Mont St Cornillon (juga di Belgia), mengadakan sinode dan melembagakan perayaan pesta ini.
    Dari Liège, perayaan itu mulai menyebar, dan, pada September 8, 1264, Paus Urbanus IV menerbitkan bula kepausan "Transiturus de hoc mundo," yang meresmikan Pesta Corpus Christi sebagai perayaan universal Gereja, yang akan dirayakan pada Kamis setelah Minggu Trinitas (minggu pertama setelah Pentakosta)

    Atas permintaan Paus Urbanus IV, St Thomas Aquinas menulis ofisi (doa resmi Gereja) untuk pesta ini.
    Ofisi ini secara luas dianggap salah satu yang paling indah di dalam Brevir tradisional Roma (brevir tradisional = buku doa resmi, Liturgi Jam Kudus), dan merupakan referensi himne Ekaristi terkenal "Pange Lingua Gloriosi" (di Indonesia: Puji Syukur no. 502) dan "Tantum Ergo Sacramentum" (Puji Syukur, PS 558 dan 559)

    Selama berabad-abad setelah perayaan ini diperluas mencapai keseluruhan Gereja universal, perayaan itu juga dirayakan dengan prosesi ekaristi, di mana Hosti Kudus diarak ke penjuru kota, disertai dengan pujian dan litani.

    Sementara itu, umat beriman memuliakan Tubuh Kristus saat prosesi melewati mereka.
    Dalam beberapa tahun terakhir, praktik ini telah hampir menghilang, meskipun beberapa paroki masih terus melaksanakannya


    dari Kitab Hukum Kanonik :
     
    Kan. 944 § 1Jika menurut penilaian Uskup diosesan dapat dilaksanakan, sebagai kesaksian publik penghormatan terhadap Ekaristi mahakudus, hendaklah diselenggarakan prosesi lewat jalan-jalan umum, terutama pada hari raya Tubuh dan Darah Kristus.
    Kan. 944 § 2Uskup diosesan bertugas menetapkan peraturan-peraturan mengenai prosesi, dengannya dijamin partisipasi serta kepantasannya.


    Kan. 1246 § 1Hari Minggu, menurut tradisi apostolik, adalah hari dirayakannya misteri paskah, maka harus dipertahankan sebagai hari raya wajib primordial di seluruh Gereja. Begitu pula harus dipertahankan sebagai hari-hari wajib: hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan, Tubuh dan Darah Kristus, Santa Perawan Maria Bunda Allah, Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dan Santa Perawan Maria diangkat ke surga, Santo Yusuf, Rasul Santo Petrus dan Paulus, dan akhirnya hari raya Semua Orang Kudus.
    Kan. 1246 § 2Namun Konferensi para Uskup dengan persetujuan sebelum- nya dari Takhta Apostolik, dapat menghapus beberapa dari antara hari- hari raya wajib itu atau memindahkan hari raya itu ke hari Minggu.

    (PS: berdasar Kan 1246 point 2, di Indonesia HR. Tubuh dan Darah Tuhan dirayakan pada Minggu kedua setelah Pentakosta)



    Prosesi 
    (foto dari Komunitas TLM Melbourne, 2009)

















     
     (ilustrasi: Camila, webnya tidak diketemukan lagi)



    Referensi:
    Corpus Christi: The Body and Blood of Christ
    Corpus Christi (feast)

    ===========================
    Update:
    Dari Fr. Z (klik)

    In the 1975 Missale Romanum, after the texts for the Mass, there is a note that the observance of the feast of Corpus Christi can be transferred to Sunday.   In the newest edition, the 2002MR, we read not about the transferal of the feast, but rather:

    Expedit ut processio fiat post Missam, in qua hostia in processione deferenda consecretur. Nihil tamen impedit quominus processio peragatur etiam post publicam et protractam adorationem quae Missam sequatur… 
    It is advantageous that a procession be held after the Mass, in which the Host to be borne in procession is consecrated.   However, nothing prevents the procession from being held after the public and extended adoration which follows Mass….

    In other words… really, folks, you should have a procession!

    The Solemnity of the Most Holy Body and Blood of the Lord celebrates the institution of the Eucharist in a more focused way than it is even on Holy Thursday, in the context of the Triduum.

    It was established by Pope Urban IV in 1264 and its Mass and Office composed by St. Thomas Aquinas.   The feast itself was inspired by a great miracle.

    In 1263 a German priest, Peter of Prague, making a pilgrimage to Rome stopped at Bolsena. He was having serious doubts about the Real Presence of Christ in the Host.  While celebrating Holy Mass in Bolsena at the tomb of the virgin martyr St. Christina, at the consecration blood began to drip from the Host.  The Host bled over his hands onto the altar and the corporal (the linen cloth spread under the Host and chalice during Mass).

    Fr. Peter stopped the Mass and asked to be taken to the neighboring city of Orvieto, where Pope Urban was in residence with his court (also there were St. Bonventure and St. Thomas).  The Pope listened to the priest’s account then began a complete investigation.  Afterward, Urban ordered the bishop of the diocese to bring to Orvieto both the Host and the linen corporal stained with the blood. The Pope made a great procession with the entire papal court out of Orvieto to meet the other procession approaching with the Host and corporal.

    He brought the relics to Orvieto, where the great new cathedral church or “Duomo” was raised for their display, the cornerstone laid in 1290.  They are still visible in Orvieto today.  The gold reliquary is one of the wonders of medieval craftsmanship and religious aspirations.  Pope Urban prompted the drafting of an Office and Mass for the new feast which he instituted in August 1264.
    Anyone going to Rome would do very well to travel north also to Orvieto, which is not far at all, to see the magnificent cathedral with its bas reliefs by Lorenzo Maitani (1255-1330) and also a chapel decorated with frescoes by Luca Signorelli (1441-1523) and Fra Giovanni da Fiesole – “Beato Angelico” (1387-1455) whose tomb is at S. Maria sopra Minerva in Roma and who was beatified by Pope John Paul II in 1984.
    Bolsena is also not far, with the church and tomb of St. Christina where there is also a fine small catacomb you can visit.
    Read more ...

    Selasa, 25 Mei 2010

    Reportase: Misa Perdana dalam forma Ekstraordinaria Keuskupan Bandung

    -------------
    Reportase: Andreas Mulia
    Foto: Andreas Mulia, Miller Lokanata, Mea Culpa
    -------------


    Reportase singkat mengenai Misa kemarin.
    Misa dimulai terlambat 45 menit krn keterlambatan transportasi jemputan romo.
    Tepat jam 10 dimulai dgn rosario latin spt biasa, tersedia teks missal utk Pentakosta dan teks rosario dan sekilas penjelasan Summorum Pontificum dan mengapa melaksanakan Misa Tridentina yang berbahasa Latin.
    Kapel dipadati umat sampai luber keluar, jumlah yang hadir diperkirakan hampir mencapai 200 orang.

    Misa dimulai dengan pemercikan air suci diiringi lagu Vidi Aquam dan selebran memakai cappa lalu berganti dgn kasula setelahnya.
    Misa ini ternyata bukan misa cantata seperti yang diprediksi beberapa rekan, melainkan missa lecta (dilagukan DIBACAKAN) dengan pendupaan.

    Schola (koor) mengiringi dgn lagu-lagu gregorian dan bbrp lagu gerejani Indonesia.
    Khotbah mengenai peran Roh Kudus dalam Gereja yang sering dilupakan orang Katolik jaman sekarang.

    Salah satu catatan menarik adalah, Romo Soekarno yang sangat lancar bahasa latinnya krn beliau ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1967 saat misa Tridentina ini masih berlaku.
    Dan sejak ditahbiskan, beliau mengaku tidak pernah persembahkan Misa ini sejak ditahbiskan.

    Umat secara aktif berpartisipasi menjaga keheningan (bahkan sebelum misa dimulai saat menunggu) dan ikut menjawab bagian bagian2 server dan lagu2 gregorian.  Yang hadir kebanyakan orang muda yang penuh semangat mengikutinya.

    Misa berlangsung selama 2 jam lebih krn semua rubrik dibacakan dari missal, dan karena missa lecta, hampir semua  rubrik dilagukan oleh romo.
    Komuni dibagikan kepada umat dengan di lidah, dengan posisi berlutut pada 6 buah kneeler (tempat berlutut) yang permukaan atasnya ditutupi kain linen (untuk memasukkan tangan umat di bawahnya).
    Komuni berjalan tertib dgn romo sendiri yang membagikan komuni bolak-balik dari kiri ke kanan. Ada confiteor ke 2 sblm komuni.


    Sebagai informasi, pada Misa Tridentina, karena umat menerima Komuni dengan berlutut, maka untuk mempercepat antrian, umat berjajar menyamping pada saat berlutut menerima Komuni.
    Jadi, sang Romo membaginya sambil berjalan menyamping.

    Komentar salah seorang anak muda yang hadir:
    "Saya baru pertama kali ikut Misa ini dan terasa sekali lain dan sakral.  Kalau sudah ikut misa ini koq rasanya misa Paulus VI nggak ada apa2nya.  Kapan diadakan lagi...?"

    Sy lampirkan bbrp foto tapi akan ada banyak foto2 profesional menyusul dari team Bandung/Ring 1...

    per Marian ad Iesu.
    A.M



    --------------------------------------------------------------------------------


    Foto-foto:


    Altar


    Perarakan masuk


     Pemercikan air suci dengan menyanyikan Vidi Aquam


    Schola


    Introibo Ad Altare Dei



    TPE



    Pendupaan Altar



    Introit



    Cappa



    Hanc Igitur


    Komuni



    Foto-foto dari Miller bisa diakses di sini (klik)

    -------------------
    update 28 Mei 2010:
    "missa lecta", seharusnya diberi penjelasan dalam kurung -DIBACAKAN, bukan dilagukan. Kesalahan ada pada saya -editor. Mohon maaf untuk itu.
    Read more ...

    Rabu, 12 Mei 2010

    Bandung: Misa Hari Raya Pentakosta, 23 Mei 2010

     Ini undangannya, silahkan dicopy paste untuk disebarkan:
     (ps: peta menuju lokasi, belum tersedia saat ini)


    Facebook Event (klik)


    Post sebelumnya:
    http://kcrt.blogspot.com/2010/04/bandung-23-mei-2010-pk-10-misa_13.html
    Read more ...

    Senin, 26 April 2010

    Buku For the Visitor at Mass, SSPX?

    Malam ini saya menerima komentar di post terdahulu sbb:



    Anonim mengatakan...
    for the visitor at mass punya sspx tuh...cieee...

    Ok.
    Sepintas, komentar ini bernada gurau (dan semoga saja saudara Anonim memang berniat gurau).
    Akan tetapi, nanti para pembaca yang lain, yang mungkin tidak tahu mengenai status ir-reguler SSPX dan pernak-perniknya; akan bertanya-tanya, dan umumnya jawaban standar yang beredar adalah "SSPX adalah skismatik."
    Dan seterusnya.. dan seterusnya... Dan akhirnya bisa saja memancing perdebatan tak perlu (sudah terjadi di banyak forum Katolik).

    Lalu, dari sepintas "gurauan" dan debat tak perlu, akan muncul image bahwa misa Tridentina adalah misa yang bla bla bla  (fill in the blank).
    Dan tambah jauhlah panggang dari api untuk menghadirkan misa ini di Indonesia.


    Yang pertama saya jelaskan:
    ini adalah buku yang mengenalkan Misa Kudus dalam bentuk ekstra ordinaria. Itu saja.


    Review paling netral setahu saya adalah dari Pater John Zuhlsdorf di sini


    The Angelus Press, publishing arm for the SSPX, has put out a very nice, very helpful little booklet designed precisely For the Visitor at Mass.  
    ...
    There are many photos to exemplify the actions of the Mass, taken at a church in Kansas City, MO.  I hope in a new edition some of the photos might be improved.  There are a few focus problems.  But all in all the photos are well chosen to show what is going on at Mass.
    ...


    "But Father! but Father!", a few of you are probably gasping. 
    "Are you suggesting that this is a good book when it is published by those schismatics?  I thought we couldn’t have anything to do with Lefebvrites!"
     
    First, of all, leaving aside the term "schism", if a book is good, it’s good.  This is a great little tool. 
    There is nothing polemical in it at all.  Even in the introductory section, where there might have been some shots fired there are only helpful explanations. 

    Second, it is certainly permissible to buy books from a non-Catholic publisher, so long as they are decent. 
    Why shouldn’t one be able to purchase them from a publisher which is Catholic, even though the unity of the group with Rome is not perfect? 
    Also, if it is permissible when attending a Mass of the SSPX (provided that the motives are proper – and I do not recommend Communion unless your circumstances are such that it is appropriate) to make a small contribution at offertory time, why could not one buy a book? 

    Catholics can engaged a non-Catholic construction firm to build a church, so why can’t we purchase books from a publisher of Catholic books to build the faith, even if the publisher’s associations are not in perfect unity? 
    Also, I cannot think of any similar book printed by any group in more perfect and manifest union with Rome

    Were there something similar or better, I would have to give that greater consideration.  In the meantime, this is a wonderful tool.

    Third, it seems to me that the attitude of "embargo" against any Angelus Press products, simply because of the association of the SSPX, is really contrary to the spirit in which our Holy Father Pope Benedict has given us Summorum Pontificum.  Someday, I hope, there will be more perfect, manifest unity. In that case, we should desire that the Angelus Press be sound and strong, for it will then be truly helpful in a much wider context.  I act in that hope.

    I think that parishes where the TLM is celebrated could use this useful and inviting little booklet.  Perhaps pastors of parishes might contact Angelus Press to see if they can get samples.  I think they will be favorably impressed.
    -----------------------------------------------------



    Selesai membaca penjelasan Fr. Zuhlsdorf , kita nikmati preview halaman-halaman dalam buku tersebut:
    (foto dari Angelus Press, klik pada image untuk memperbesar)







    PS:
    Masih diperlukan relawan untuk menterjemahkan 

    Read more ...

    Kamis, 18 Maret 2010

    Sekilas Perbedaan antara Misa Tridentina dengan Misa saat ini (Misa Paulus VI)



    Sekilas Perbedaan


    Berikut ini sekilas adalah perbedaan mendasar antara Tridentina, dipromulgasikan pada 1570 oleh St. Pius V;
    dan Missale Romanum yang dipromulgasikan pada tahun 1969 (oleh Bapa Suci Paulus VI) sebagai tanggapan terhadap reformasi Konsili Vatikan II:


    Bahasa:

    Meskipun Latin adalah bahasa asli dari kedua teks liturgi;
    misa baru mengijinkan pemakaian bahasa lokal karena membutuhkan partisipasi aktif sepenuhnya (i.e verbal dan sikap tubuh), maka biasanya menggunakan bahasa umat lokal.

    Pada misa Tridentina, bahasa lokal dipakai pada bacaan, dan homili, selebihnya latin.
    Partisipasi aktif umat dalam misa ini adalah menyimak doa imam (yang kebanyakan ditanggapi oleh pelayan -misdinar atau diakon), dan sikap tubuh.


    Bacaan:

    Terkecuali bacaan pada hari raya orang-orang kudus, Misa Tridentina memiliki siklus bacaan Kitab Suci selama satu tahun
    (i.e: bila Anda mengikuti misa tanpa putus selama 1 tahun, maka sama dengan selesai membaca Kitab Suci). > kesalahan pada tambahan catatan penulis, sumber klik ini

    Misa Vatikan II memiliki siklus tiga tahun untuk bacaan hari Minggu, dan siklus dua tahun siklus untuk bacaan harian.


    Pengakuan dosa

    Tata cara pengakuan (penitential rite) "doa di kaki altar," dibacakan oleh imam dan pelayannya sebelum Misa pada misa Tridentina, diganti oleh Doa Tobat di dalam misa, dibacakan oleh seluruh Imam dan seluruh umat pada Misa Vatikan II.


    Penamaan Bagian Misa

    Tridentina: paruh pertama liturgi disebut misa katekumen dan hampir selalu memasukkan bacaan Epistola dari salah satu surat Perjanjian Baru dan bacaan Injil dari salah satu dari empat Injil.

    Misa Paulus VI: paruh pertama adalah Liturgi Sabda, sesuai dengan tradisi gereja kuno, hampir selalu dimulai dengan satu bacaan dari Perjanjian Lama.

    Paruh kedua: Liturgi Ekaristi (Misa Paulus VI) - sebelumnya disebut Misa Kaum Beriman (Mass of the Faithfull, Tridentine) - dimulai dengan persiapan persembahan.

    Doa persembahan (offertory) yang pada misa lama direvisi dalam misa yang baru untuk menghindari umat mengira ada duplikasi doa syukur agung.
    (Karena pada Misa Tridentina, Offertory dimulai dengan Dominus Vobiscum, dan panjang sekali. Sedangkan awal Kanon juga dimulai dengan Dominus Vobiscum, dan durasinya kira-kira sama)


    Kanon

    Misa Tridentina: Satu macam Kanon (i.e Doa Syukur Agung)

    Misa Vatikan II: terdapat sembilan Doa Syukur Agung)- empat untuk hari Minggu dan hari kerja yang umum digunakan (DSA I s/d 4), dua untuk Misa berfokus pada rekonsiliasi (DSA V dan VI) dan tiga untuk Misa untuk anak-anak (DSA VII – IX).


    Komuni

    Dalam Misa baru, Ritual komuni disederhanakan, memungkinkan komuni untuk menerima Ekaristi dalam 2 rupa: roti dan anggur.


    Injil Terakhir

    Misa baru menghilangkan bacaan di akhir setiap Misa, yang dikenal dalam Misa Tridentina sebagai "Injil terakhir" (diambil dari bagian awal Injil St Yohanes).


    Kiblat

    Misa Tridentina: Imam merayakan misa menghadap ke arah liturgis timur, -tergantung tata letak bangunan gereja – yang berarti ia merayakannya menghadap arah yang sama dengan Umat.

    Misa baru: sejak diundangkannya Missale Romanum, imam biasanya memimpin Ekaristi menghadap umat.

    (catatanku: “menghadap umat” ini bahasa yang sangat vulgar.
    Sebenarnya Imam pada misa baru tetap menghadap Tuhan, karena pada altar ada salib kecil yang corpusnya menghadap imam.
    bdk PUMR 308 "di atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib" )



    Disadur bebas dengan tambahan penjelasan dari Catholic News Service


    ===================
    update: 23 Maret 2010
    Revisi (mengenai "ritus lama menamatkan KS dalam 1 tahun) :

    Maaf, ini penafsiran saya pribadi (penulis, SHV).
    Misa baru (Vatikan II), lebih banyak materi bacaan thd Kitab Suci
    Mohon maaf atas kesalahan pemahaman saya ini.


    Penjelasan yang lebih jelas bisa dibaca dari GK Holy Trinity:

    First, the old rite generally has two readings, one from a New Testament epistle and the other from one of the Gospels, while the new rite generally adds a third reading from the Old Testament. Both usages can claim an equally ancient pedigree, though the new rite's occasional allowance of a non-Scriptural text to act as a third reading is unprecedented in the world of apostolic liturgy.

    Second
    , not unlike other historic apostolic rites, the old rite uses a one-year cycle of readings while the new rite uses a three-year cycle. The advantage of the latter is greater exposure to the Scriptures; the advantage of the former is that it serves as an annual "ruler" against which one can measure one's spiritual progress from year to year.

    Third
    , while the readings of the old rite are chosen primarily for their moral or doctrinal relevance to the liturgical calendar, they can also be chosen because of a nearby Saint's Day or Station Day.
    The advantage of this development is that it pedagogically illuminates the time of year as well as connects Christian worship to the history of the Church. The new rite, on the hand, keeps its primary emphasis on making sure that a good deal of the Bible gets covered in the three-year cycle, often irrespective of what point in the calendar it is marking. Unifying themes are less important and organic connections to Christian history or hagiolatry virtually non-existent.
    Read more ...

    COLLECTA: Doa pertama dalam Misa Kudus

    Setelah Gloria selesai, Imam mencium Altar dan, berbalik kepada rakyat, berkata:
    Dominus Vobiscum.

    Sebelumnya, dia telah menyapa para pelayannya (dan umat) dengan sapaan ini, tetapi dia saat itu berada di kaki Altar; itu adalah semacam perpisahan, sebab,
    ketika di kaki Altar tersebut, ia sesaat lagi hendak masuk ke dalam Awan.
    Ia tampak enggan untuk meninggalkan umat, sampai dia telah mengucapkan Dominus Vobiscum, mengungkapkan cinta kasihnya kepada mereka yang telah berdoa bersama dengannya.

    Tapi, sekarang pada saat Kolekta, Gereja memiliki maksud berbeda dengan menggunakan dua kata ini (Dominus Vobiscum) yakni supaya umat memperhatikan sesaat lagi momen berharga ini, yang akan dipersembahkan Imam kepada Allah.

    Kolekta ini berisi permohonan umat.
    Berasal dari bahasa Latin colligere, yang berarti mengumpulkan hal-hal yang sebelumnya ada tetapi terpisah-pisah.

    Kolekta ini sangat penting. Oleh karena itu, Bunda Gereja mendesak kita untuk mendengarkan dengan rasa hormat dan penuh pengabdian.
    Menurut penggunaan monastik, paduan suara membungkuk mendalam saat Imam mendoakan kolekta ini.

    Ketika Kolekta selesai, Koor menjawab Amin,


    Doa pertama dalam misa ini juga ada pada Vesper, Lauda, dan Matin (pada ritus Monastik); pada Brevir Romawin, hanya mendoakannya pada Matin Natal, sebelum misa tengah malam.
    Semua ini menunjukkan kepada kita bagaimana pentingnya Kolekta bagi Gereja; yang mencirikan liturgi pada hari ini, dan mengapa doa ini diawali oleh oleh: Dominus Vobiscum, yang seolah-olah Imam berkata kepada orang-orang:
    Perhatian…. apa yang sekarang akan aku katakan, adalah yang sangat penting.

    Selain itu, Imam, ketika di sini mengatakan Dominus Vobiscum, menoleh ke arah umat, hal yang tidak ia lakukan ketika ia mengucapkan kata tersebut saat berada di kaki Altar.

    Tapi karena sekarang naik ke sana, dan setelah menerima pengampunan dari Tuhan, ia mengumumkan kepada umat dengan membuka tangannya, ia berkata:
    Dominus Vobiscum.
    Umat menjawab: Et cum Spiritu tuo.

    Kemudian Imam, merasakan bahwa umat telah bersatu dengannya, berkata:
    Oremus; Mari kita berdoa.
    (apabila misa dipersembahkan oleh Uskup atau sederajat: Pax Vobis)
     
    (Pax Vobis yang diucapkan di sini apabila Misa dirayakan oleh Wali Gereja, adalah bentuk yang sangat kuno. Itu salam dalam adat orang Yahudi kuno. )

    Imam harus merentangkan kedua lengannya, saat mendoakan Kolekta.
    Saat ini, ia sedang meneladan cara berdoa kuno, yang digunakan oleh umat Kristen perdana.
    Seperti Tuhan kita telah direntangkan lengan-Nya di kayu salib, dan berdoa bagi kita, demikianlah Imam berdoa bagi umatnya.
     
    Penggunaan kuno ini telah disampaikan kepada kita, dalam lukisan
    di Katakombe, yang menggambarkan doa yang dicerminkan dalam sikap: maka, nama Orantes, diberikan kepada sikap tubuh tersebut.
     
    Di Timur, praktek berdoa dengan tangan terentang bersifat universal; di negara-negara Barat, itu telah menjadi sangat langka, dan hanya digunakan pada kesempatan khusus.

    Hanya Imam yang berdoa dalam sikap tubuh  demikian, karena ia mewakili Tuhan kita, yang menawarkan doa yang tak terhingga nilainya saat Dia tergantung di kayu salib;
    Dia mempersembahkannya kepada Bapa-Nya Kekal.




    Contoh Kolekta:
    16 Maret 2010 Missa "Exáudi, Deus"

    Dominus vobiscum.
    R. Et cum spiritu tuo.

    Oremus.

    Sacræ nobis, quæsumus, Dómine, observatiónis jejúnia: et piæ conversatiónis augméntum, et tuae propitiatiónis contínuum præstent auxílium.
    Per Dominum Jesum Christum, Filium Tuum, Qui Tecum vivit et regnat in unitate Spiritus Sancti, Deus,

    Per omnia saecula saeculorum.

    R. Amen.





    sumber:
    Explanation of the Prayers and Ceremonies of  Holy Mass  by
    Dom Prosper Guéranger - Abbot of Solesmes
    Benedictine Congregation St. Mary’s Abbey, Stanbrook June 14. 1885

    Contoh Collecta dari:
    Missale 1962
    Read more ...

    Sabtu, 27 Februari 2010

    Bagian Misa Katekumen: Kyrie dan Gloria



    Foto: Akhir dari Introit, paling depan: Imam, diakon, dan sub diakon; ada di sisi Epistola.
    Mengawali Kyrie, mereka akan berada di sisi tengah Altar, tetap dalam formasi yang sama; paling depan Imam, lalu Diakon, dan Sub Diakon paling belakang.
    Foto atas kebaikan hati Komunitas TLM Knoxville, US.

    Kyrie

    [berlutut]

    P: Kyrie eleison.
    Tuhan Kasihanilah kami

    S: Kyrie eleison.
    Tuhan Kasihanilah kami

    P: Kyrie eleison.
    Tuhan Kasihanilah kami

    S: Christe eleison.
    Kristus Kasihanilah kami

    P: Christe eleison.
    Kristus Kasihanilah kami

    S: Christe eleison.
    Kristus Kasihanilah kami

    P: Kyrie eleison.
    Tuhan Kasihanilah kami

    S: Kyrie eleison.
    Tuhan Kasihanilah kami

    P: Kyrie eleison.
    Tuhan Kasihanilah kami




    Gloria
    [berdiri]


    Foto: Imam bangkit (dari posisi membungkuk) ke tengah Altar untuk mendoakan Gloria.
    Imam mengawali Gloria dengan merentangkan tangan dan mengatupkannya di dada saat mengucapkan Deo, dan hingga akhir tangannya tetap terkatup.

    Saat imam mengucapkan : Adoramus te, Gratias agimus tibi, Jesu Christe, Suscipe deprecationem nostram, and again Jesu Christe, Imam menundukkan kepala ke arah salib (di tengah Altar).
    Saat mengucapkan : Cum Sancto Spiritu (akhir Gloria) dia membuat tanda salib dari kepala hingga dada, sambil menyelesaikan gloria Dei Patris. Amen.

    Foto atas kebaikan hati Komunitas TLM Knoxville, US

    Gloria bisa ditiadakan, tergantung kalender liturgi

    P:
    Gloria in excelsis Deo.
    Et in terra pax hominibus bonae voluntatis. Laudamus te.
    Benedicimus te. Adoramus te. Glorificamus te.
    Gratias agimus tibi propter magnam gloriam tuam.
    Domine Deus, Rex coelestis, Deus Pater omnipotens.
    Domine Fili unigenite, Jesu Christe. Domine Deus, Agnus Dei,Filius Patris.
    Qui tollis peccata mundi, miserere nobis.
    Qui tollis peccata mundi, suscipe deprecationem nostram.
    Qui sedes ad dexteram Patris, miserere nobis.
    Quoniam tu solus Sanctus.
    Tu solus Dominus. Tu solus Altissimus, Jesu Christe.
    Cum Sancto Spiritu + in gloria Dei Patris. Amen.

    Kemuliaan kepada Allah disurga.
    Dan damai dibumi kepada orang yang berkenan kepadaNya. Kami memuji Dikau
    Kami meluhurkan Dikau, kami menyembah Dikau, kami memuliakan Dikau.
    Kami bersyukur padaMu karena kemuliaanMu yang besar.
    Ya Tuhan Allah Raja Surgawi, Allah Bapa yang mahakuasa. Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera yang tunggal. Ya Tuhan Allah, Anak domba Allah, Putera Bapa.
    Engkau yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.
    Engkau yang menghapus dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
    Engkau yang duduk di sisi Bapa, kasihanilah kami.
    Karena hanya Engkaulah kudus.
    Hanya Engkaulah Tuhan.
    Hanya Engkaulah Maha Tinggi, ya Yesus Kristus.
    Bersama dengan Roh Kudus, dalam kemuliaan Allah Bapa, Amin



    P: Dominus Vobiscum.
    Tuhan Bersamamu

    S: Et cum spiritu tuo.
    Dan bersama rohmu

    P: Oremus.
    Marilah Berdoa


    Doa Kolekta
    [berdiri]
    disini imam mendoakan collecta
    Lihat Proper hari yang bersangkutan


    P:....Per omnia saecula saeculorum.
    Sepanjang segala masa.

    S: Amen.
    Amin


    Credit:
    Foto: Knoxville Latin Mass Community (Hak cipta pada Roy Ehman, paroki Our Lady of Fatima di Alcoa)

    Text dan terjemahan: Rudy
    Komentar dan petunjuk postur : Missale 1962 dan Ritus Servandus

    Read more ...

    Minggu, 21 Februari 2010

    Jenis Missa, dan fotonya

    Rekan-rekan pembaca,
    artikel-artikel mendatang akan berisi banyak istilah: High Mass, Low mass, dll.. maka akan saya coba untuk jelaskan dahulu artinya.

    Semoga bisa menangkap gambarannya, dan pembahasan menjadi menarik.

    ==============================================




    Misa Kudus dibagi menjadi 2 jenis:


    1. Sung Mass (Missa in Cantu)
    Ciri khas: Imam menyanyikan bagian-bagian rubrik misa
    Biasa dilaksanakan pada: Misa Hari Raya

    Sung Mass, dibagi lagi menjadi:
    A. High Mass
    (atau sering disebut Solemn Mass, Misa Meriah)
    Bila Imam selebran dibantu oleh Diakon (dan misdinar)

    B. Missa Cantata
    Bila Imam selebran merayakannya sendiri (dibantu hanya oleh misdinar saja)

    add:
    *Solemn Mass yang dirayaan oleh Uskup, disebut sebagai Pontifical Mas

    2. Low Mass (Missa Lecta)
    Ciri khas: Imam membaca (berbisik) keseluruhan rubrik misa
    Biasa dilaksanakan pada: misa harian, misa pribadi imam, misa minggu di luar hari raya, misa arwah




    Contoh Foto:

    Solemn Mass
    (atas kebaikan hati Mulier Fortis, UK. Klik untuk lihat halaman lengkapnya)


    Foto diambil saat Confiteor Server (setelah Confiteor Imam) :
    Imam (di tengah), diapit oleh Diakon (bedakan bentuk kasula, ujungnya, dengan milik Imam).
    Karena tidak semua paroki memiliki Vestment set yang cukup -dengan warna liturgi yang sesuai dengan Hari Raya tertentu- untuk Solemn Mass (dengan 3 kasula: 1 untuk imam, dan 2 untuk diakon) bisa saja diakon memakai kostum seperti server.

    Note: Di paroki yang banyak pastor dan minim diakon, bisa saja pastor lain lagi yang mengambil bagian sebagai diakon.
    Klik foto untuk melihatnya pada resolusi 1600 pixel



    Foto diambil saat Pengangkatan Hosti.
    Perhatikan 1 Diakon mengangkat ujung kanan kasula imam, supaya tangan kanan imam bisa bergerak lebih tinggi saat mengangkat Hosti Kudus.
    1 Diakon lagi berlutut di belakang, diapit oleh misdinar.
    Klik foto untuk melihatnya pada resolusi 1600 pixel


    Missa cantata

    (atas kebaikan hati Mulier Fortis, UK. Klik untuk lihat halaman lengkapnya)



    1 Imam, dibantu misdinar saja, tanpa diakon.
    Perhatikan bahwa foto ini adalah missa requiem (misa arwah), maka kasula imam berwarna hitam.
    (sebenarnya, contoh paling baik untuk missa cantata adalah video, akan saya susulkan segera bila ada)
    Klik foto untuk melihatnya pada resolusi 1600 pixel


    Low Mass
    (Foto oleh: Shawn Tribe, New Liturgical Movement <-klik untuk artikel )






    Perhatikan: 1 imam, dan 1 server.
    Di latar depan adalah Altar Rail (pembatas antara Sanctuary / Panti imam, dengan area umat)






    Foto diambil saat penerimaan Komuni.
    Perhatikan misdinar (server) membawa Patena (semacam piring, dari kuningan dan dilapis emas 23K) yang diletakkan di bawah dagu umat saat Hosti diberikan, untuk memastikan Hosti atau Remahannya tidak jatuh.


    Dan di Altar Rail juga ada kain linen yang berguna untuk menahan Remahan Suci jaga-jaga bila jatuh, tidak langsung ke lantai.



    Pontifical High Mass
    (foto atas kebaikan hati Schola Sainte Cécile utk selengkapnya)

    Keterangan:
    Pesta SP Maria Bunda Penolong, 27 Juni Pesta. Yang Mulia Uskup Athanasius Schneider, Titular Uskup Celerina, pembantu uskup Karaganda (Kazakhstan) merayakan misa Pontifical pentahbisan imam baru 5 imam Persaudaraan Saint Peter di Wigratzbad



    Introit: Pendupaan Altar




    Foto: menjelang tahbisan.
    Perhatikan Bapak Uskup diapit oleh Diakon, lalu paling kiri belakang adalah Sub-Diakon.
    Dan 4 server ada di depan.
    Perhatikan tangan Bapak Uskup.


    Foto: YM Mgr Schneider memberikan homili.

    Foto: Prefasi (sebelum Sanctus dan Kanon)


    Foto: Memadahkan Te Deum sebelum Berkat-Pengutusan

    Klik ini untuk melihat foto yang lebih banyak






    Referensi:
    The New Rubric of Roman Breviary and Missal, hal. 51
    Terjemahan Latin-Inggris oleh Rev. Patrick L. Murphy
    New South Wales 1960
    Nihil Obstat: Jacobus Carrol, Vikjen Sindey

    Buku atas kebaikan hati Komunitas Maternal Heart, Sidney
    Read more ...