Tampilkan postingan dengan label katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katolik. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Juni 2010
Sabtu, 29 Mei 2010
Yuk mencintai (lagi) Gregorian
Dear all,
Setelah menengok blog rekan Onggo (klik di sini), rasanya kita sekalian perlu angkat topi kepada umat Paroki St. Bellarminus yang dengan susah payah berusaha berlatih menyanyikan gregorian dengan baik.
(emm... mereka, sebelumnya sudah 20 tahun tidak menyanyikannya).
Mari kita dukung dengan doa, dan (bagi warga paroki St. Bellarminus yang kebetulan membaca blog ini) ya kalau bisa ikut latihan.
Mengenal bahasa Latin, salah satunya adalah dengan mencinta lagu Gregorian, selain itu bisa dengan lebih sering mengikuti misa berbahasa Latin (baik misa Vatikan II, atau misa Tridentina).
====================================
Ini ada beberapa refensi web yang berguna untuk belajar Gregorian, silahkan dikunjungi:
(pada situs-situs ini, disediakan teks dalam format PDF dan sampel audio dalam format MP3)
St. Antoine Daniel (Kyriale untuk misa Ekstra Ordinaria / Tridentina)
St. René Goupil (proper untuk misa Ekstra Ordinaria / Tridentina, hanya untuk hari minggu saja)
St. Isaac Jogues (proper untuk misa Vatikan II, hanya hari minggu saja)
St. Lalande (project arsip teks-teks gregorian chant)
Christus Rex :
Proper untuk misa Tridentina (sepanjang tahun, audio MP3 dan text dalam bentuk GIF)
Proper untuk misa Vatikan II (sepanjang tahun, audi MP3 dan text dalam bentuk GIF)
Kyriale
PS:
beberapa dokumen Gereja yang terkait dengan pentingnya lagu Gregorian (dan bahasa Latin):
Sacrosanctum Concilium art. 116
The Church acknowledges Gregorian chant as specially suited to the Roman liturgy: therefore, other things being equal, it should be given pride of place in liturgical services.
But other kinds of sacred music, especially polyphony, are by no means excluded from liturgical celebrations, so long as they accord with the spirit of the liturgical action
--------------
General Instruction of the Roman Missal 41
All other things being equal, Gregorian chant holds pride of place because it is proper to the Roman Liturgy. Other types of sacred music, in particular polyphony, are in no way excluded, provided that they correspond to the spirit of the liturgical action and that they foster the participation of all the faithful.
Since faithful from different countries come together ever more frequently, it is fitting that they know how to sing together at least some parts of the Ordinary of the Mass in Latin, especially the Creed and the Lord’s Prayer, set to the simpler melodies.
--------------
Kardinal Ratzinger, The Spirit of the Liturgy, hal 148
On the one hand, there is pop music, which is certainly no longer supported by the people in the ancient sense (populus). It is aimed at the phenomenon of the masses, is industrially produced, and ultimately has to be described as a cult of the banal. “Rock”, on the other hand, is the expression of elemental passions, and at rock festivals it assumes a cultic character, a form of worship, in fact, in opposition to Christian worship.
People are, so to speak, released from themselves by the experience of being part of a crowd and by the emotional shock of rhythm, noise, and special lighting effects. However, in the ecstasy of having all their defenses torn down, the participants sink, as it were, beneath the elemental force of the universe.
The music of the Holy Spirit’s sober inebriation seems to have little chance when self has become a prison, the mind is a shackle, and breaking out from both appears as a true promise of redemption that can be tasted at least for a few moments.
--------------
Bapa Suci Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis art. 62
Similarly, the better-known prayers of the Church’s tradition should be recited in Latin and, if possible, selections of Gregorian chant should be sung.
Speaking more generally,
I ask that future priests, from their time in the seminary, receive the preparation needed to understand and to celebrate Mass in Latin, and also to use Latin texts and execute Gregorian chant; nor should we forget that the faithful can be taught to recite the more common prayers in Latin, and also to sing parts of the liturgy to Gregorian chant.
HR Tritunggal Maha Kudus: Hari Minggu setelah Pentakosta
Image dari: Breviary.net
Hari Minggu setelah Minggu Pentakosta, diperingati oleh Gereja sebagai Hari Raya Tritunggal Maha Kudus.
Karena, pada Pentakosta, terungkaplah secara penuh Pribadi Allah Roh Kudus kepada manusia, dengan demkian, "Tritunggal Maha Kudus, telah dinyatakan secara penuh dan utuh".
Dari Katekismus Gereja Katolik:
(sumber dari Ekaristi.org <-klik untuk melihat entry tsb)
731
Pada hari Pentekosta (pada hari terakhir dari ketujuh minggu Paskah) selesailah Paskah Kristus dalam curahan Roh Kudus. Sekarang Ia nyata sebagai Pribadi ilahi. Sekarang Ia diberikan dan diumumkan secara terbuka sebagai Pribadi ilahi.
Kristus Tuhan memberi Roh dalam kelimpahan Bdk. Kis 2:33
732
Pada hari itu Tritunggal Maha Kudus dinyatakan secara penuh dan utuh.
Sejak hari itu Kerajaan yang diumumkan Kristus telah dibuka bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Meskipun mereka manusia lemah, namun dalam iman mereka sudah ikut ambil bagian dalam persekutuan Tritunggal Maha Kudus.
Oleh kedatangan-Nya yang tidak terputus-putus, Roh Kudus membiarkan dunia masuk ke dalam "zaman terakhir", zaman Gereja: Kerajaan Allah sudah diterima sebagai warisan, namun belum diselesaikan.
"Kami telah melihat terang yang benar, kami telah menerima Roh surgawi, kami telah mendapat iman yang benar. Kami menyembah Tritunggal yang tidak terbagi karena Ia telah menyelamatkan kita"
(Liturgi Bisantin; Tropar dalam Ibadat Sore Pentekosta; diambil sebagai nyanyian sesudah komuni dalam perayaan Ekaristi).
---------
727
Seluruh perutusan Putera dan Roh Kudus pada saat pemenuhan terdapat dalam kenyataan bahwa Putera sejak inkarnasi-Nya adalah Dia, yang terurapi dengan Roh Bapa: Yesus adalah Kristus, Mesias.
Seluruh bab dua pengakuan iman harus dibaca dalam terang ini. Seluruh karya Kristus adalah perutusan bersama Putera dan Roh Kudus.
Di sini hanya dicantumkan apa yang menyangkut janji Roh Kudus oleh Yesus dan pencurahan-Nya melalui Tuhan yang dimuliakan.
728
Selama Yesus sendiri belum dimuliakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia belum mewahyukan Roh Kudus secara penuh dan utuh. Namun lama kelamaan Ia menunjukkan kepada-Nya, sebagaimana dalam ajaran-Nya kepada rakyat. ketika Ia menyatakan bahwa daging-Nya akan menjadi makanan demi kehidupan dunia Bdk. Yoh 6:27.51.62-63
Ia menyatakan juga karya Roh kepada Nikodemus Bdk. Yoh 3:5-8., wanita Samaria, Bdk. Yoh 4:10.14.23-24. dan mereka yang mengambil bagian dalam hari raya pondok daun Bdk. Yoh 7:37-39
Dalam hubungan dengan doa Bdk. Luk 11:13. dan kesaksian, yang harus mereka berikan Bdk. Mat 10:19-20., Ia berbicara kepada murid-murid-Nya secara terbuka mengenai Roh Kudus.
729
Baru setelah saat kemuliaan-Nya tiba, Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, karena dalam kematian dan kebangkitan-Nya akan terpenuhilah janji yang diberikan kepada para bapa Bdk. Yoh 14:16-17.26; 15:26; 16:7-15; 17:26.:
Roh kebenaran, paraklet [penghibur] yang lain, akan diberikan oleh Bapa karena doa Yesus; Ia akan dikirim oleh Bapa, karena Ia keluar dari Bapa. Roh Kudus akan datang; kita akan mengenal-Nya;
Ia akan selalu hadir di tengah-tengah kita. Ia akan mengajar kita dan akan mengingatkan kita akan segala sesuatu yang telah dikatakan Kristus kepada kita, dan memberi kesaksian tentang Dia;
Ia akan mengantar kita kepada seluruh kebenaran dan akan memuliakan Kristus. Ia akan membuktikan kepada dunia mengenai dosa, keadilan dan pengadilan.
730
Akhirnya saat Yesus tiba Bdk. Yoh 13:1; 17:1.: Ia menyerahkan roh-Nya ke dalam tangan Bapa Bdk. Luk 23:46. Yoh 19:30. ketika Ia mengalahkan maut dengan kematian-Nya.
Setelah Ia "dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa" (Rm 6:4), Ia langsung memberikan Roh, dengan menghembusi murid-murid-Nya Bdk. Yoh 20:22..
Mulai saat itu perutusan Kristus dan Roh Kudus menjadi perutusan Gereja: "Sama seperti Bapa mengutus Aku demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh 20:21) Bdk. Mat 28:19; Luk 24:47-48; Kis 1:8.
HR. Tritunggal Maha Kudus, dalam kalender lama (1962) termasuk pesta kelas I, yakni perayaan wajib.
Kekayaan Gereja Katolik
Grafik ilustrasi dari Thomas Rudy:
Ritus-ritus yang termasuk dalam Gereja Katolik.
Misa kudus dalam 2 forma yang kita kenal di Indonesia, Misa Paulus VI dan Misa Tridentina, adalah termasuk dalam ritus Romawi (pada bagan tersebut ditulis Bentuk Lazim sebagau terjemahan Ordinary Form, dan Bentuk Tak Lazim sebagai terjemahan Extra Ordinary Form).
Di luar ritus Romawi, masih banyak lagi ritus lainnya.
Klik pada gambar untuk memperbesar (dan gunakan CTRL dan + pada keyboard untuk zoom).
Thomas Rudy bisa dikontak di sini (klik): Buku Misa
Komunitas Katolik Timur di FB bisa ditemukan di sini (klik).
Salah satu pengurusnya adalah WNI yang sudah transfer kanonik dari Ritus Romawi ke Katolik Melkite.
Read more ...
Ritus-ritus yang termasuk dalam Gereja Katolik.
Misa kudus dalam 2 forma yang kita kenal di Indonesia, Misa Paulus VI dan Misa Tridentina, adalah termasuk dalam ritus Romawi (pada bagan tersebut ditulis Bentuk Lazim sebagau terjemahan Ordinary Form, dan Bentuk Tak Lazim sebagai terjemahan Extra Ordinary Form).
Di luar ritus Romawi, masih banyak lagi ritus lainnya.
Klik pada gambar untuk memperbesar (dan gunakan CTRL dan + pada keyboard untuk zoom).
Thomas Rudy bisa dikontak di sini (klik): Buku Misa
Komunitas Katolik Timur di FB bisa ditemukan di sini (klik).
Salah satu pengurusnya adalah WNI yang sudah transfer kanonik dari Ritus Romawi ke Katolik Melkite.
Jumat, 30 April 2010
Bapa Uskup Slattery: Ad Orientem (Majalah Eastern Oklahoma Catholic, Sept 2009)
Ad Orientem
Because the Mass is so necessary and fundamental to our Catholic experience, the liturgy is a constant topic in our conversation.
That is why when we get together, we so often relect upon the prayers and readings, discuss the homily, and – likely as not – argue about the music.
The critical element in these conversations is an understanding that we Catholics worship the way we do because of what the Mass is: Christ’s sacrifice, offered under the sacramental signs of bread and wine.
If our conversation about the Mass is going to “make any sense,” then we have to grasp this essential truth:
We also want to remember that all of the faithful offer the Eucharistic Sacrifice as members of Christ’s body.
It’s incorrect to think that only the priest offers Mass.
All the faithful share in the offering, even though the priest has a unique role.
He stands “in the person of Christ,” the historic Head of the Mystical Body, so that, at Mass, it is the whole body of Christ– Head and members together that make the offering.
Facing the same direction
From ancient times, the position of the priest and the people relected this understanding of the Mass, since the people prayed, standing or kneeling, in the place that visibly corresponded to Our Lord’s Body, while the priest at the altar stood at the head as the Head We formed the whole Christ – Head and members – both sacramentally by Baptism and visibly by our position and posture.
Just as importantly, everyone –celebrant and congregation– faced the same direction, since they were united with Christ in offering to the Father Christ’s unique, unrepeat-able and acceptable sacrifice.
This single position is called ad orientem, which simply means “toward the east.”
Multiple advantages
Having the priest and people celebrate Mass ad orientem was the liturgical norm for nearly 18 centuries.
Theremust have been solid reasons for the Church to have held on to this posture for so long.
And there were!
An innovation with unforeseen consequences
In the last 40 years, however, this shared orientation was lost; now the priest and the people have become accustomed to facing in opposit directions.
The priest faces the people while the people face the priest, even though the Eucharistic Prayer is directed to the Father and not to the people.
This innovation was introduced after the Vatican Council, partly to help the people understand the liturgical action of the Mass by allowing them to see what was going on, and partly as an accommodation to contemporary culture where people who exercise authority are expected to face directly the people they serve, like a teacher sitting behind her desk.
Unfortunately this change had a number of unforeseen and largely negative effects.
First of all, it was a serious rupture with the Church’s ancient tradition.
Secondly, it can give the appearance that the priest and the people were engaged in a conversation about God, rather than the worship of God.
Thirdly, it places an inordinate importance on the personality of the celebrant by placing him on a kind of liturgical stage.
Recovering the sacred
Even before his election as the successor to St. Peter, Pope Benedict has been urging us to draw upon the ancient liturgical practice of the Church to recover a more authentic Catholic worship.
For that reason, I have restored the venerable ad orientem position when I celebrate Mass at the Cathedral.
This change ought not to be misconstrued as the Bishop “turning his back on the faithful,” as if I am being inconsiderate or hostile.
Such an interpretation misses the point that, by facing in the same direction, the posture of the celebrant and the congregation make explicit the fact that we journey together to God.
Priest and people are on this pilgrimage together.
It would also be a mistaken notion to look at the recovery of this ancient tradition as a mere “turning back of the clock.”
Pope Benedict has spoken repeatedly of the importance of celebrating Mass ad orientem, but his intention is not to encourage celebrants to become “liturgical antiquarians.”
Rather, His Holiness wants us to discover what underlies this ancient tradition and made it viable for so many centuries, namely, the Church’s understanding that the worship of the Mass is primarily and essentially the worship which Christ offers to His Father.
Lampiran (klik untuk memperbesar):
Screenshot majalah (p2)
Screenshoot majalah (p3)
Link PDF (3.76MB, klik)
Read more ...
Revival of ancient rite brings multiple advantages,
some misperceptions
– Bishop Edward J. Slattery
– Bishop Edward J. Slattery
Because the Mass is so necessary and fundamental to our Catholic experience, the liturgy is a constant topic in our conversation.
That is why when we get together, we so often relect upon the prayers and readings, discuss the homily, and – likely as not – argue about the music.
The critical element in these conversations is an understanding that we Catholics worship the way we do because of what the Mass is: Christ’s sacrifice, offered under the sacramental signs of bread and wine.
If our conversation about the Mass is going to “make any sense,” then we have to grasp this essential truth:
At Mass, Christ joins us to Himself as He offers Himself in sacrifice to the Father for the world’s redemption.We can offer ourselves like this in Him because we have become members of His Body by Baptism.
We also want to remember that all of the faithful offer the Eucharistic Sacrifice as members of Christ’s body.
It’s incorrect to think that only the priest offers Mass.
All the faithful share in the offering, even though the priest has a unique role.
He stands “in the person of Christ,” the historic Head of the Mystical Body, so that, at Mass, it is the whole body of Christ– Head and members together that make the offering.
Facing the same direction
From ancient times, the position of the priest and the people relected this understanding of the Mass, since the people prayed, standing or kneeling, in the place that visibly corresponded to Our Lord’s Body, while the priest at the altar stood at the head as the Head We formed the whole Christ – Head and members – both sacramentally by Baptism and visibly by our position and posture.
Just as importantly, everyone –celebrant and congregation– faced the same direction, since they were united with Christ in offering to the Father Christ’s unique, unrepeat-able and acceptable sacrifice.
When we study the most ancient liturgical practices of the Church, we find that the priest and the people faced in the same direction, usually toward the east, in the expectation that when Christ returns, He will return “from the east.”At Mass, the Church keeps vigil, waiting for that return.
This single position is called ad orientem, which simply means “toward the east.”
Multiple advantages
Having the priest and people celebrate Mass ad orientem was the liturgical norm for nearly 18 centuries.
Theremust have been solid reasons for the Church to have held on to this posture for so long.
And there were!
First of all, the Catholic liturgy has always maintained a marvelous adherence to the Apostolic Tradition.
We see the Mass, indeed the whole liturgical expression of the Church’s life, as something which we have received from the Apostles and which we, in turn, are expected to hand on intact. (1 Corinthians 11:23)
Secondly, the Church held on to this single eastward position because of the sublime way it reveals the nature of the Mass.
Even someone unfamiliar with the Mass who relected upon the celebrant and the faithful being oriented in the same direction would recognize that the priest stands at the head of the people, sharing in one and the same action, which was – he would note with a moment’s longer relection – an act of worship.
An innovation with unforeseen consequences
In the last 40 years, however, this shared orientation was lost; now the priest and the people have become accustomed to facing in opposit directions.
The priest faces the people while the people face the priest, even though the Eucharistic Prayer is directed to the Father and not to the people.
This innovation was introduced after the Vatican Council, partly to help the people understand the liturgical action of the Mass by allowing them to see what was going on, and partly as an accommodation to contemporary culture where people who exercise authority are expected to face directly the people they serve, like a teacher sitting behind her desk.
Unfortunately this change had a number of unforeseen and largely negative effects.
First of all, it was a serious rupture with the Church’s ancient tradition.
Secondly, it can give the appearance that the priest and the people were engaged in a conversation about God, rather than the worship of God.
Thirdly, it places an inordinate importance on the personality of the celebrant by placing him on a kind of liturgical stage.
Recovering the sacred
Even before his election as the successor to St. Peter, Pope Benedict has been urging us to draw upon the ancient liturgical practice of the Church to recover a more authentic Catholic worship.
For that reason, I have restored the venerable ad orientem position when I celebrate Mass at the Cathedral.
This change ought not to be misconstrued as the Bishop “turning his back on the faithful,” as if I am being inconsiderate or hostile.
Such an interpretation misses the point that, by facing in the same direction, the posture of the celebrant and the congregation make explicit the fact that we journey together to God.
Priest and people are on this pilgrimage together.
It would also be a mistaken notion to look at the recovery of this ancient tradition as a mere “turning back of the clock.”
Pope Benedict has spoken repeatedly of the importance of celebrating Mass ad orientem, but his intention is not to encourage celebrants to become “liturgical antiquarians.”
Rather, His Holiness wants us to discover what underlies this ancient tradition and made it viable for so many centuries, namely, the Church’s understanding that the worship of the Mass is primarily and essentially the worship which Christ offers to His Father.
++++++++++++++++++++++++++
Lampiran (klik untuk memperbesar):
Screenshot majalah (p2)
Screenshoot majalah (p3)
Link PDF (3.76MB, klik)
Minggu, 18 April 2010
Contoh Kalender Liturgi untuk Misa bentuk Ekstra Ordinaria
Berikut contoh Kalender Liturgi (dan website-nya) yang bisa dipergunakan sebagai referensi penyelenggaraan misa Tridentina
Ada 2 sumber (sebenarnya 3, bila Ordinarium -bacaan tetap Misa juga dihitung -tapi sudah ada terjemahan di Mas Rudy, Puri Indah):
1. Ordo 2010 dari Latin Mass Society of English and Wales
Website (klik)
Contoh untuk Mei, tanggal 1 (Hari Raya Wajib St. Yosep pekerja, kelas 1):
Klik ini untuk jadwal sepanjang tahun
Klik ini untuk kalender bulan Mei saja
2. Proper Missa (bagian bacaan dan doa yang berubah-ubah sepanjang tahun)
Dari Virgo Mater Die (klik)
Contoh untuk bulan Mei tanggal 1:
(klik untuk melihat halaman detilnya)
Read more ...
Ada 2 sumber (sebenarnya 3, bila Ordinarium -bacaan tetap Misa juga dihitung -tapi sudah ada terjemahan di Mas Rudy, Puri Indah):
1. Ordo 2010 dari Latin Mass Society of English and Wales
Website (klik)
Contoh untuk Mei, tanggal 1 (Hari Raya Wajib St. Yosep pekerja, kelas 1):
Klik ini untuk jadwal sepanjang tahun
Klik ini untuk kalender bulan Mei saja
2. Proper Missa (bagian bacaan dan doa yang berubah-ubah sepanjang tahun)
Dari Virgo Mater Die (klik)
Contoh untuk bulan Mei tanggal 1:
(klik untuk melihat halaman detilnya)
Kalender Liturgi
Kalender liturgi digunakan oleh Gereja sebagai panduan pelaksanaan liturgi.
Ada dua set tanggal yang bisa dibedakan dalam kalender liturgi, yakni:
Proper Para Kudus (Proper of Saints) adalah Hari raya atau peringatan yang tidak bergerak, yaitu jatuh pada tanggal yang sama setiap tahun.
Proper Masa adalah hari Minggu dan Hari-hari raya lainnya tahun, yang penentuan tanggalnya tergantung pada tanggal Minggu Paskah dan Minggu Advent, sehingga berubah setiap tahun.
Dengan kata lain, untuk membayangkan kalender liturgi:
Untuk menentukan tanggal yang tepat atas Masa (Proper of Seasons):
Langkah 1: Masa Paskah:
Langkah 2: Masa setelah Pentakosta:
Langkah 3: Masa Septuagesima:
Langkah 4: Masa Prapaskah:
Langkah 6: Masa Natal:
Langkah 7: Waktu setelah Epifania:
Kemudian periksa daftar Siklus Temporal untuk mengisi Hari-hari raya bergerak lainnya, yang tergantung pada tanggal tanggal Paskah atau Minggu Advent Minggu sebagaimana ditentukan di atas.
Selanjutnya, hal tersisa yang harus dilakukan adalah:
Menandai "oktaf":
Hari Raya yang memiliki Oktaf: Natal, Paskah, dan Pentakosta.
Secara istimewa, oktaf sebelum malam Natal disebut sebagai: "The Golden Nights." (sejak tanggal 18 Desember-24 Desember malam)
Menandai Hari Tobat (Ember Days) dan Hari doa (rogation) :
Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja mendorong umat untuk pergi menerima Sakramen Pengakun Dosa pada hari-hari Ember ini, dan melaksanakan puasa (makan kenyang 1x dan 2x makan sebagian; yang bila dijumlah tidak sama dengan 1 porsi yang kenyang tadi).
Dan pada hari Tobat Jumat, menjadi puasa dan pantang daging sekaligus (karena Jumat sepanjang tahun adalah hari wajib pantang daging).
Paus Paulus VI, dalam Dekrit Paenitimi menghapuskan puasa pada hari-hari tobat ini, dan sekaligus melonggarkan aturan ketat pantang dan puasa.
Hari doa (rogation):
Sekarang, setiap hari Minggu dalam Masa Liturgi sudah memiliki sendiri "Proper"-nya masing-masing.
Dan itu akan berkaitan dengan penggunaan Proper (Proprium) yakni doa yang ditujukan khusus untuk hari itu dalam liturgi (Jam Kudus dan Misa Kudus).
Setiap Hari Raya dan peringatan Para Kudus juga memiliki Proper sendiri.
Karena Hari Raya dalam Proper Para Kudus dan Proper Masa (proper of seasons) kadang-kadang bisa tumpang tindih (dengan dua Hari Raya jatuh pada tanggal yang sama), maka, semua Hari-hari raya diberi peringkat menurut skala prioritas. Pesta peringkat lebih tinggi akan menjadi salah satu yang dirayakan.
Liturgical Wheel
Untuk mendapatkan gambaran secara "sekilas pandang" komposisi Proper of Seasons (Masa Liturgi), perhatikan litugical wheel di bawah ini.
PS: warna-warna tersebut mencerminkan warna liturgi pada periode yang berkaitan
Contoh Liturgical Wheel (dari edisi 1961,Saint Joseph Daily Missal, Traditional Calendar):
Yang ini adalah liturgy wheel Misa Vatikan II (atau biasa disebut Misa Paulus VI):
Credit:
Referensi:
Ember Days, Rogations Days, and Station Churches
Fisheater
Wikipedia Ember Days
Konstitusi Apostolik PAENITEMINI
Read more ...
Ada dua set tanggal yang bisa dibedakan dalam kalender liturgi, yakni:
- Proper Para Kudus -Proper of Saints (juga disebut siklus "Sanctoral"), dan
- Proper Masa -Proper of Seasons (juga disebut siklus "Temporal").
Proper Para Kudus (Proper of Saints) adalah Hari raya atau peringatan yang tidak bergerak, yaitu jatuh pada tanggal yang sama setiap tahun.
Proper Masa adalah hari Minggu dan Hari-hari raya lainnya tahun, yang penentuan tanggalnya tergantung pada tanggal Minggu Paskah dan Minggu Advent, sehingga berubah setiap tahun.
Dengan kata lain, untuk membayangkan kalender liturgi:
- Bayangkan sebuah kalender biasa, standar, sehari-hari
- Tandai dahulu seluruhnya dengan Proper Para Kudus, dengan nama Hari Raya untuk setiap hari - misalnya, 21 Januari akan selalu Pesta St Agnes, 3 Feb akan selalu Pesta St Blasius, dll
- Setelah itu, kita akan menentukan tanggal Proper Masa (Proper of Seasons) dan menandainya pada kalender.
Untuk menentukan tanggal yang tepat atas Masa (Proper of Seasons):
Langkah 1: Masa Paskah:
Tanggal Paskah, merupakan hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama pada atau sesudah tanggal 21 Maret (jika bulan purnama terjadi tepat pada tanggal 21 Maret atau sesudahnya, jatuh di hari Minggu, maka tanggal pergi ke hari Minggu berikutnya).
Malam sebelum hari minggu tersebut menandai awal perayaan Paskah (Vigili).
Langkah 2: Masa setelah Pentakosta:
Kita anggap Minggu Paskah adalah Minggu 1, maka 9 hari Minggu setelah Minggu Paskah tersebut adalah awal Masa Setelah Pentakosta. Minggu pada Masa Setelah Pentakosta ini disebut sebagai : Minggu "(Pertama, Kedua, Ketiga, dll) setelah Pentakosta."
Langkah 3: Masa Septuagesima:
Kita anggap Minggu Paskah adalah Minggu 1, maka 10 hari Minggu sebelumnya adalah awal Masa Septuagesima.
Tiga hari Minggu pada masa ini disebut: Minggu Septuagesima, Minggu Sexagesima, dan Minggu Quinquagesima.
Langkah 4: Masa Prapaskah:
Kita anggap bahwa Minggu Septuagesima sebagai Minggu "satu"," maju 3 hari Minggu ke depan dari Minggu Septuagesima, dan kemudian pergi hari Rabu maka kita menandai hari tersebut sebagai "Rabu Abu," awal puasa.Langkah 5: Masa Adven:
Suatu hari Minggu di masa ini disebut sebagai "Minggu (Pertama, Kedua, Ketiga, dll) Prapaskah."
Kita mulai dengan Hari Natal, yang selalu jatuh pada tanggal 25 Desember. Lalu hitung mundur sebanyak 4 hari Minggu untuk menandai Minggu Adven.
Jika Natal adalah hari Minggu, jangan menghitungnya; tetap mundur sebanyak 4 hari Minggu, sehingga akan selalu didapat 4 hari Minggu di masa Adven.
Cara lain untuk melakukan ini adalah dengan hanya menandai hari Minggu yang paling dekat dengan Hari raya St. Andreas Rasul (30 November).
Tanggal ini menandai awal Advent. Hari Minggu di masa ini disebut sebagai Minggu Adven (Pertama, Kedua, Ketiga, dll)
Langkah 6: Masa Natal:
Tandai Malam (Vigil) 25 Desember sebagai awal Natal
Langkah 7: Waktu setelah Epifania:
Tandai tanggal 14 Januari sebagai awal dari Waktu Setelah Epifania.
Hari Minggu pada masa ini disebut sebagai Minggu (Kedua, Ketiga, dll) setelah Epifania.
Catatan, hari Minggu pertama pada masa ini disebut Minggu Kedua setelah Epiphany.
"Setelah Epifania" selalu mengacu pada perayaan Epifania
Kemudian periksa daftar Siklus Temporal untuk mengisi Hari-hari raya bergerak lainnya, yang tergantung pada tanggal tanggal Paskah atau Minggu Advent Minggu sebagaimana ditentukan di atas.
Selanjutnya, hal tersisa yang harus dilakukan adalah:
Menandai "oktaf":
- Oktaf adalah periode selama 8 hari ketaatan, yang dimulai dengan hari raya itu sendiri.
- Tidak semua Hari-hari raya memiliki "oktaf"; hanya yang paling penting saja.
- Jadi, dimulai dengan Hari Raya itu sendiri, yang dihitung sebagai "satu," maka, rangkaian 8 hari kedepan setelah tanggal tersebut disebut sebagai: OKTAF.
Hari Raya yang memiliki Oktaf: Natal, Paskah, dan Pentakosta.
Secara istimewa, oktaf sebelum malam Natal disebut sebagai: "The Golden Nights." (sejak tanggal 18 Desember-24 Desember malam)
Menandai Hari Tobat (Ember Days) dan Hari doa (rogation) :
- Daftar Hari Tobat (Ember Days):
- Rabu, Jumat, dan Sabtu setelah Advent Minggu Ketiga (Minggu Gaudete) adalah hari tobat dalam Masa Adven
- Rabu, Jumat, dan Sabtu setelah hari Minggu Prapaskah Pertama dikenal sebagai hari tobat dalam Masa Paskah
- Rabu, Jumat, dan Sabtu setelah hari Minggu Pentakosta membuat Whit Embertide (hari tobat setelah Pentakosta)
- Rabu, Jumat, dan Sabtu setelah hari raya Salib Suci (14 September) - bisa jatuh pada minggu kedua atau ketiga bulan September.
Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja mendorong umat untuk pergi menerima Sakramen Pengakun Dosa pada hari-hari Ember ini, dan melaksanakan puasa (makan kenyang 1x dan 2x makan sebagian; yang bila dijumlah tidak sama dengan 1 porsi yang kenyang tadi).
Dan pada hari Tobat Jumat, menjadi puasa dan pantang daging sekaligus (karena Jumat sepanjang tahun adalah hari wajib pantang daging).
Paus Paulus VI, dalam Dekrit Paenitimi menghapuskan puasa pada hari-hari tobat ini, dan sekaligus melonggarkan aturan ketat pantang dan puasa.
Hari doa (rogation):
Tandai hari doa Mayor pada tanggal 25 April dan hari doa Minor pada tiga hari - Senin, Selasa, dan Rabu - sebelum Kamis Hari Raya Kenaikan Tuhan (selalu jatuh pada Kamis, tepat 40 hari setelah Paskah)Penutup
Sekarang, setiap hari Minggu dalam Masa Liturgi sudah memiliki sendiri "Proper"-nya masing-masing.
Dan itu akan berkaitan dengan penggunaan Proper (Proprium) yakni doa yang ditujukan khusus untuk hari itu dalam liturgi (Jam Kudus dan Misa Kudus).
Setiap Hari Raya dan peringatan Para Kudus juga memiliki Proper sendiri.
Karena Hari Raya dalam Proper Para Kudus dan Proper Masa (proper of seasons) kadang-kadang bisa tumpang tindih (dengan dua Hari Raya jatuh pada tanggal yang sama), maka, semua Hari-hari raya diberi peringkat menurut skala prioritas. Pesta peringkat lebih tinggi akan menjadi salah satu yang dirayakan.
...bersambung
Liturgical Wheel
Untuk mendapatkan gambaran secara "sekilas pandang" komposisi Proper of Seasons (Masa Liturgi), perhatikan litugical wheel di bawah ini.
PS: warna-warna tersebut mencerminkan warna liturgi pada periode yang berkaitan
Contoh Liturgical Wheel (dari edisi 1961,Saint Joseph Daily Missal, Traditional Calendar):
Yang ini adalah liturgy wheel Misa Vatikan II (atau biasa disebut Misa Paulus VI):
Credit:
- Liturgical wheel Tridentina: Ibu Mary Ellen Barrett
- Liturgical wheel Misa Vatikan II: Ibu Michele Q
Referensi:
Ember Days, Rogations Days, and Station Churches
Fisheater
Wikipedia Ember Days
Konstitusi Apostolik PAENITEMINI
Jumat, 16 April 2010
Tahun Liturgi: berpusat pada Paskah dan Natal
Tahun Liturgi
Agama Kristen melihat waktu sebagai linear; ada masa mulai dan berakhir.
Sepanjang waktu ini dipandang sebagai siklus meditasi tentang hal-hal yang suci.
Tahun liturgi adalah siklus perayaan memperingati hidup Yesus dan ibu-Nya, para malaikat, dan para Kudus yang menjadi teladan hidup kesucian kita.
Di bawah ini adalah 25 Hari-hari raya dan periode liturgi, dalam urutan kronologis, yang menunjukkan bagaimana tahun liturgi berpusat di seputar kehidupan Kristus:
catatan:
Penanggalan Paskah dan Natal, selalu didahulukan untuk menentukan posisi hari raya yang lain.
Setiap tahun, umat Katolik menghidupkan Injil, dari masa Inkarnasi Kristus dan Kelahiran hingga Kenaikan-Nya ke surga dan pemerintahan surgawi-Nya.

Pada musim semi, Dia memasuki dunia dengan datang untuk beristirahat dalam rahim Maria;
Lalu sembilan bulan kemudian, di musim dingin, Dia lahir, disunat, dan diberi Nama.
Ia dibesarkan dalam Keluarga Kudus, dan bertemu sepupu-Nya, Yohanes.
Dia pergi ke Gurun dan kita pergi bersama-Nya pada masa prapaskah.
Kemudian tibalah masa sengsara dan wafat-Nya, yang segera dikalahkan oleh Kebangkitan-Nya, Kenaikan-Nya, dan Pentakosta.
Sekarang Ia berkuasa - dan selamanya, dan kami menunggu Kedatangan Kedua-Nya seperti kita mempersiapkan diri untuk merayakan lagi-Nya kedatangan pertama-Nya.
Kemudian siklus dimulai lagi, seperti roda yang berputar selama dua milenia.
Katolik yang sadar arti siklus ini juga akan sadar tentang hidup Kristus;
Katolik yang merayakan Hari Raya, dan praktek tradisi Gereja, akan hidup akrab bersama-Nya.
Semua Hari raya Gereja terangkum dalam 2 "siklus liturgi" utama, yang terdiri dari 7 "masa liturgi."
Setiap masa memiliki suasana hati yang terkait, dan ornamennya sendiri.
Bahkan untuk setiap musim ada warna tertentu yang akan tercermin dalam jubah imam dan seni liturgi, dekorasi gereja, dan sebagainya (meskipun pada Hari Suci tertentu dalam masa tertentu, warna liturgi pada Hari Suci itu akan lebih diutamakan daripada warna musim) .
Siklus 1: Siklus Natal
Masa 1: Adven
Masa 2: Natal
Masa 3: Waktu Setelah Epiphany
Siklus 2: Siklus Paskah
Masa 4: Septuagesima
Masa 5: Prapaskah (Quadragesima)
Masa 6: Paskah
Masa 7: Minggu Setelah Pentakosta

*ditulis ulang dari Fish Eater, dengan penyesuan seperlunya. * bagian berikutnya adalah Proper of Saints dan Proper of Season, pada postingan yang lain
Agama Kristen melihat waktu sebagai linear; ada masa mulai dan berakhir.
Sepanjang waktu ini dipandang sebagai siklus meditasi tentang hal-hal yang suci.
Tahun liturgi adalah siklus perayaan memperingati hidup Yesus dan ibu-Nya, para malaikat, dan para Kudus yang menjadi teladan hidup kesucian kita.
Di bawah ini adalah 25 Hari-hari raya dan periode liturgi, dalam urutan kronologis, yang menunjukkan bagaimana tahun liturgi berpusat di seputar kehidupan Kristus:
- Advent : Dia akan datang
- Kelahiran : Dia datang [fixed: 25 Desember]
- Sunat : Dia mentaati Hukum Perjanjian Lama
- Epiphania : Dia mengungkapkan diriNya sebagai Allah
- Keluarga Kudus : la tumbuh dalam keluarga manusia
- Candlemas : nubuat Simeon
- Septuagesima : kami berada di pengasingan tanpa Kristus
- Rabu Abu : Tanpa Kristus, kita ini debu
- Prapaskah : pengembaraan di gurun
- Minggu Sengsara : Yahudi membuat rencana untuk membunuh Yesus
- 7 Duka Maria : Penderitaan Maria untuk peristiwa yang akan datang
- Minggu Palem Dia penuh kemenangan memasuki Yerusalem
- Rabu Suci (Spy wednesday) : Yesus dikhianati oleh Yudas
- Kamis Putih : Ia memberikan Misa Kudus pertama
- Jumat Agung : Dia dihukum mati dan memenuhi Hukum Perjanjian Lama
- Sabtu Suci : Dia ada di dalam kubur
- Paskah : Dia telah bangkit [tanggal berubah-ubah, dasarnya pada hari minggu dengan bulan purnama pertama, setelah 21 Maret]
- Kenaikan Tuhan : Dia naik ke surga
- Pentakosta : Dia mengirimkan Roh Kudus
- Minggu Trinitas : Tritunggal Mahakudus telah sepenuhnya diungkapkan
- Kenaikan Maria : Maria diangkat ke surga & mahkota Ratu
- Kristus Raja : Kami mengakui Kerajaan Kristus sekarang dan selamanya
- Semua Orang Kudus : Kita akan menang seperti yang Santo-santo heroik kami
- Semua Jiwa-jiwa Kami : berdoa bagi mereka yang sedang menunggu kemenangan mereka
- Minggu Terakhir setelah Pentakosta : Kiamat. Dia akan datang untuk menghakimi dunia.
catatan:
Penanggalan Paskah dan Natal, selalu didahulukan untuk menentukan posisi hari raya yang lain.
Setiap tahun, umat Katolik menghidupkan Injil, dari masa Inkarnasi Kristus dan Kelahiran hingga Kenaikan-Nya ke surga dan pemerintahan surgawi-Nya.
Pada musim semi, Dia memasuki dunia dengan datang untuk beristirahat dalam rahim Maria;
Lalu sembilan bulan kemudian, di musim dingin, Dia lahir, disunat, dan diberi Nama.
Ia dibesarkan dalam Keluarga Kudus, dan bertemu sepupu-Nya, Yohanes.
Dia pergi ke Gurun dan kita pergi bersama-Nya pada masa prapaskah.
Kemudian tibalah masa sengsara dan wafat-Nya, yang segera dikalahkan oleh Kebangkitan-Nya, Kenaikan-Nya, dan Pentakosta.
Sekarang Ia berkuasa - dan selamanya, dan kami menunggu Kedatangan Kedua-Nya seperti kita mempersiapkan diri untuk merayakan lagi-Nya kedatangan pertama-Nya.
Kemudian siklus dimulai lagi, seperti roda yang berputar selama dua milenia.
Katolik yang sadar arti siklus ini juga akan sadar tentang hidup Kristus;
Katolik yang merayakan Hari Raya, dan praktek tradisi Gereja, akan hidup akrab bersama-Nya.
Semua Hari raya Gereja terangkum dalam 2 "siklus liturgi" utama, yang terdiri dari 7 "masa liturgi."
Setiap masa memiliki suasana hati yang terkait, dan ornamennya sendiri.
Bahkan untuk setiap musim ada warna tertentu yang akan tercermin dalam jubah imam dan seni liturgi, dekorasi gereja, dan sebagainya (meskipun pada Hari Suci tertentu dalam masa tertentu, warna liturgi pada Hari Suci itu akan lebih diutamakan daripada warna musim) .
Siklus 1: Siklus Natal
Masa 1: Adven
- Kata "Advent" berasal dari advenire "Latin" yang berarti "kedatangan" dan merujuk kepada penantian kita akan kedatangan peringatan kelahiran Kristus, dan Kedatangan Kedua-Nya.
- Masa tobat dan pengharapan berlangsung dari hari Minggu pertama Adven ("Advent Minggu") sampai 24 Desember (22-28 hari kalender). Warnanya ungu.
Masa 2: Natal
- Saat itu perayaan Inkarnasi Kristus, suasana Natal adalah perayaan yang rendah hati, bersyukur, gembira.
- Masa ini berlangsung dari Vesper 24 Desember - 13 Januari (dalam Oktaf Epiphany) inklusif (selama 19 hari kalender dalam hal perhitungan liturgis).
- Pesta Natal itu sendiri berlangsung 12 hari ("Dua Belas Hari Natal"), tetapi fokus rohani Natal tidak berakhir sampai tibanya Candlemas pada tanggal 2 Februari.
- Warnanya putih atau emas.
Masa 3: Waktu Setelah Epiphany
- Masa ini, melanjutkan fokus Natal dan Kanak-kanak Ilahi dan mulai ke berfokus pada pelayanan publik Yesus, berlangsung dari 14 Januari sampai dengan malam Septuagesima Minggu (Minggu kesembilan sebelum Paskah, yang sama dengan 3x hari Minggu sebelum Rabu Abu ) inklusif (38 hari kalender). Warnanya hijau.
Siklus 2: Siklus Paskah
Masa 4: Septuagesima
- Masa ini, yang namanya namanya berarti "Tujuh puluh" mengingatkan pembuangan Babel.
- Septuagesima berlangsung dari hari Minggu Septuagesima (hari minggu kesembilan sebelum Paskah) hingga Shrove Selasa (sehari sebelum Rabu Abu) inklusif (16 hari kalender). Warnanya ungu.
Masa 5: Prapaskah (Quadragesima)
- Masa ini, juga disebut "Quadraegesima," yang berarti "Empat puluh," adalah masa berkabung dan pertobatan, yang dahulu dialami Kristus selama 40 hari di padang gurun, dan sebelumnya dilalui oleh umat Israel dengan mengembara di padang gurun selama 40 tahun.
- "Masa Sengsara" adalah dua minggu terakhir Prapaskah. Minggu pertama adalah Minggu kelima Prapaskah hingga hari sebelum Minggu Palma.
- Minggu kedua Sengsara disebut "Pekan Suci." Tiga hari terakhir Pekan Suci - yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci - yang disebut Triduum Suci.
- Prapaskah berlangsung selama 40 hari (tapi pada prakteknya meliputi enam hari Minggu yang tidak dihitung sebagai "prapaska" karena Minggu selalu merayakan Kebangkitan dan kegembiraan), sejak Rabu Abu sampai Sabtu sebelum Paskah, dengan tiga hari terakhir - yang Triduum Suci - yang secara liturgi dirayakan istimewa. Total : 46 hari kalender. Warnanya ungu.
Masa 6: Paskah
- Kegembiraan dan kemenangan masa Paskah berlangsung mulai dari Malam Paskah hingga hari Minggu sebelum Minggu Trinitas (56 hari kalender, tidak termasuk malam Paskah). Warnanya putih atau emas.
Masa 7: Minggu Setelah Pentakosta
- Fokus musim ini adalah adalah Allah Roh Kudus pada Gereja yang hidup sekarang, dan Pemerintahan Kristus sebagai Raja segala raja - waktu antara masa Para Rasul dan masa yang akan datang.
- Masa ini berlangsung dari Minggu Tritunggal hingga hari Minggu sebelum Advent (per kalender, panjangnya bervariasi). Warnanya hijau.
*ditulis ulang dari Fish Eater, dengan penyesuan seperlunya. * bagian berikutnya adalah Proper of Saints dan Proper of Season, pada postingan yang lain
Kamis, 08 April 2010
Oktaf Paskah: Hari Raya Paskah s/d Minggu Paskah I (Low Sunday)
Masa Paskah merupakan satu masa gembira yang terdiri dari beberapa tahap yang berbeda.
Yang pertama adalah Oktaf Paskah, berlangsung dari hari Minggu Paskah ke Minggu "Rendah" (Low Sunday).
Ini terdiri dari delapan hari sukacita atas kemenangan Juruselamat kita terhadap kematian, serta anugerah kehidupan kekal yang diberikan kepada umat yang baru dibaptis.
Bahkan, katekumen terbaptis dalam tradisi akan menerima baju putih di saat baptisan mereka pada Sabtu Suci malam (malam Paskah) dan akan terus memakainya untuk 8 hari dalam minggu ini.
Mereka akan melepas simbol hidup baru mereka pada hari Minggu berikutnya (akhir dari oktaf), yang dalam bahasa Latin disebut Dominica in albis
Low Sunday (Minggu pertama setelah paskah)
Selama berabad-abad hari Minggu pertama setelah Paskah adalah juga hari ketika anak-anak akan menerima Komuni mereka untuk pertama kali.
Saat anak-anak menerima Komuni Kudus pertama kali, seringkali dengan ayah dan ibunya berlutut di samping mereka.
Demikian pentingnya peristiwa ini, sehingga banyak yang menyebutnya: “peristiwa terindah dalam hidupku.”
Penutupan Oktaf Paskah, bagaimanapun, tidak mengakhiri kegembiraan dari masa Paskah.
Allelulia terus didaraskan dalam Misa dan jam kudus;
Vidi Aquam dan Regina Caeli dikumandangkan menggantikan Asperges Me dan Angelus, dan lilin Paskah yang masih menyala terang.
Hingga tibanya hari raya Kamis – Kenaikan Tuhan.

Keraguan St Thomas: Injil pada Minggu setelah Paskah (Low Sunday)
Ilustrasi: Tuhan yang bangkit menunjukkan luka di sisi-Nya kepada St Thomas, yang meletakkan tangan di sana.
Yesus juga menunjukkan luka di tangannya dan kakinya:
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27 ).
Para Rasul lainnya berdiri di belakang Yesus, St Thomas sendirian. Mereka sudah melihat, dan mereka percaya.
Akhirnya berteriaklah Santo Thomas: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Yesus berkata kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:28.29).
Yang pertama adalah Oktaf Paskah, berlangsung dari hari Minggu Paskah ke Minggu "Rendah" (Low Sunday).
Ini terdiri dari delapan hari sukacita atas kemenangan Juruselamat kita terhadap kematian, serta anugerah kehidupan kekal yang diberikan kepada umat yang baru dibaptis.
Bahkan, katekumen terbaptis dalam tradisi akan menerima baju putih di saat baptisan mereka pada Sabtu Suci malam (malam Paskah) dan akan terus memakainya untuk 8 hari dalam minggu ini.
Mereka akan melepas simbol hidup baru mereka pada hari Minggu berikutnya (akhir dari oktaf), yang dalam bahasa Latin disebut Dominica in albis
Low Sunday (Minggu pertama setelah paskah)
Selama berabad-abad hari Minggu pertama setelah Paskah adalah juga hari ketika anak-anak akan menerima Komuni mereka untuk pertama kali.
Saat anak-anak menerima Komuni Kudus pertama kali, seringkali dengan ayah dan ibunya berlutut di samping mereka.
Demikian pentingnya peristiwa ini, sehingga banyak yang menyebutnya: “peristiwa terindah dalam hidupku.”
Penutupan Oktaf Paskah, bagaimanapun, tidak mengakhiri kegembiraan dari masa Paskah.
Allelulia terus didaraskan dalam Misa dan jam kudus;
Vidi Aquam dan Regina Caeli dikumandangkan menggantikan Asperges Me dan Angelus, dan lilin Paskah yang masih menyala terang.
Hingga tibanya hari raya Kamis – Kenaikan Tuhan.
Keraguan St Thomas: Injil pada Minggu setelah Paskah (Low Sunday)
Ilustrasi: Tuhan yang bangkit menunjukkan luka di sisi-Nya kepada St Thomas, yang meletakkan tangan di sana.
Yesus juga menunjukkan luka di tangannya dan kakinya:
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27 ).
Para Rasul lainnya berdiri di belakang Yesus, St Thomas sendirian. Mereka sudah melihat, dan mereka percaya.
Akhirnya berteriaklah Santo Thomas: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Yesus berkata kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:28.29).