Senin, 30 Agustus 2010

Penjelasan St. Thomas mengenai banyaknya tanda salib

Pendahuluan

Pada misa forma ekstraordinaria, kita akan melihat dalam berbagai bagian, banyak sekali tanda salib dilakukan.
Paling mencolok adalah pada saat Kanon (misa baru: Doa Syukur Agung).

Artikel ini adalah terjemahan dari Summa Theologica St. Thomas Aquina, yang menjelaskan mengapa perlu ada tanda salib sedemikian banyak di dalam kanon.

Article 5.
Whether the actions performed in celebrating this sacrament are becoming?
Objection 3.
Further, the ceremonies performed in the sacraments of the Church ought not to be repeated. Consequently it is not proper for the priest to repeat the sign of the cross many times over this sacrament.

referensi: http://www.newadvent.org/summa/4083.htm

potongan image untuk menjelaskan letak pastinya tanda salib di Kanon Misa, saya ambil dari Ordo Missae 1962 Latin-Indo yang dipakai internal.


=========================================================


Artikel 5.
Apakah tindakan yang dilakukan dalam merayakan sakramen ini [penting]?

Keberatan 3.
Selanjutnya, upacara sakramen Gereja seharusnya tidak diulang.
Oleh karena itu tidak tepat untuk imam melakukan berulang kali tanda salib atas sakramen ini



Aku menjawab bahwa, seperti dikatakan di atas (Pertanyaan 60, Artikel 6), ada dua cara penekanan dalam sakramen, dengan kata-kata, dan tindakan, agar makna yang ditekankan bisa menjadi lebih sempurna.

Sekarang, dalam perayaan sakramen ini kata-kata digunakan untuk menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan Sengsara Kristus, yang diwakili dalam sakramen ini; atau, yang berkaitan dengan tubuh mistik Kristus, yang ditekankan di dalamnya, dan lagi, hal-hal yang berkaitan dengan penerimaan sakramen ini, yang penerimaannya harus dengan taat dan hormat.
Akibatnya, dalam perayaan misteri ini beberapa hal yang dilakukan untuk mewakili Sengsara Kristus, menunjukkan tubuh mistik-Nya, dan beberapa hal lain dilakukan yang berhubungan dengan pengabdian dan penghormatan kepada  sakramen ini.


Jawaban atas Keberatan 3:

Imam, dalam merayakan misa, menggunakan tanda salib untuk menekankan Sengsara Kristus yang berakhir pada salib. Sekarang, Sengsara Kristus dilakukan dalam tahapan tertentu.

Pertama-tama adalah pengkhianatan Kristus, yang merupakan karya Allah yang dilakukan oleh Yudas dan orang Yahudi, ini ditandai dengan tanda tiga salib di kata-kata:
pemberian + ini, persembahan + ini, kurban + kudus dan tak bernoda ini




Kedua, penjualan Kristus.
Sekarang ia dijual kepada para imam, ke ahli Taurat, dan orang-orang Farisi:
dan untuk menunjukkan ini tanda salib tiga kali diulangi pada kata-kata:
"terber+kati, ha+lal, +sah,"
Atau lagi, untuk menunjukkan harga yang Dia dijual, yaitu tiga puluh kepeng perak.

Dan dua kali tanda salib ditambahkan pada kata-kata - "agar menjadi bagi kami Tu+buh dan Da+rah" dst, untuk menandai si Yudas penjual, dan Kristus yang telah terjual.



Ketiga, bayangan Sengsara Kristus pada malam perjamuan terakhir.
Untuk menyatakan ini, dua tanda salib dibuat, satu di konsekrasi Tubuh, satunya lagi di konsekrasi Darah; setiap kali imam berkata, "member+kati"



Keempat, adalah Sengsara Kristus itu sendiri. Dan guna mewakili lima luka-Nya, ada lima kali tanda salib pada kata-kata: “Persembahan + yang suci, persembahan + kudus, persembahan + yang tak bernoda, Roti + Kudus kehidupan kekal, dan Piala + keselamatan yang kekal.



Kelima, perentangan Tubuh Kristus, dan penumpahan darah, dan buah dari Sengsara, yang ditandai dengan tiga kali tanda salib pada kata-kata:
"supaya kami semua  (mencium altar), yang mengambil bagian pada altar ini dan yang akan menyambut Tu + buh dan Da + rah PuteraMu yang amat kudus, dipenuhi dengan segala berkat dan rahmat surgawi. "

[shv: 1x tanda salib diganti dengan mencium altar, yang pada jaman kuno adalah makam para martir]



Keenam, doa Kristus sebanyak tiga kali di atas kayu salib ditunjukkan dengan:
satu untuk penganiaya-Nya ketika Dia berkata, "Bapa, ampunilah mereka",
yang kedua untuk pembebasan dari kematian, saat Dia mengucap, "Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? "
yang ketiga masuknya ke dalam kemuliaan-Nya, ketika Dia berkata, "Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku";
dan guna menunjukkan ini ada tiga tanda salib dibuat pada kata-kata:
"mengu+duskan, menghi+dupkan, member+kati, dan memberikannya kepada kami."



Ketujuh, tiga jam di mana Dia tergantung di atas kayu salib, yaitu, dari jam keenam hingga jam kesembilan, terwakili saat membuat tanda salib tiga kali pada kata-kata:
"Karena Di+a, dan dengan Di+a, dan dalam Di+a,"




Kedelapan, pemisahan jiwa-Nya dari tubuh ditandai oleh dua tanda salib yang dibuat di atas Piala

[shv: “Allah Bapa + yang Mahakuasa, dalam persatuan Roh + Kudus”]


Kesembilan, kebangkitan pada hari ketiga diwakili oleh tiga tanda salib yang dibuat pada kata-kata :
"Semoga damai + Tuhan + selalu + besertamu"




Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa konsekrasi sakramen ini, dan penerimaan kurban ini, dan buah-buahnya, merupakan kelanjutkan dari kebajikan Salib Kristus, dan karena itu dimanapun menyebutkannya, imam senantiasa menggunakan tanda salib.

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Imam menggunakan Tanda Salib sebanyak-banyaknya wajar dan sah-sah saja..Apalagi pada saat pelaksanaan misa : Imam itu adalah "wakil"dari Allah yg "hadir" dan "wakil" dari umat,wajar kalau "kehadiran" Allah di Altar penuh dgn tanda salib...Diluar Altar seorang Pastor pun sah2 saja banyak menggunakan tanda salib,krn jabatan Pastor adalah "jabatan yg mulia dan kudus"..

"Peristiwa di Altar Kudus" pada saat misa harus dimaklumi bisa di maklumkan dan dirasakan seluruh umat dgn "iman" jangan di artikan ibarat menonton sinetron di televisi....

Beatus Ramsel Bakkara
Mantan Ketua Kelompok 10 thn
Mantan Seksi Kepemudaan Paroki St.Damian Bengkong.
Mantan Wakil Ketua DPP.
Telp 0778 7055186
e-mail : ramselbakkara_19@yahoo.com

Daniel Pane mengatakan...

Bagaimanapun juga penafsiran St.Thomas ini termasuk penafsiran yang rohani sekali dan kurang didasarkan pada sejarah. Liturgi Romawi pada dasarnya memiliki sifat "singkat, sederhana, dan runtut" dan karenanya tidak memiliki banyak pengulangan-pengulangan, termasuk pengulangan Tanda Salib. Kebiasaan mengulang-ulang Tanda Salib sepertinya adalah kebiasaan Galikan yang diadopsi oleh Roma pada abad pertengahan. Konsili Vatikan II yang memiliki visi untuk memurnikan tradisi Roma, kemudian menyingkirkan hampir semua pengaruh Galikan (menghapus pengulangan dan banyak simbol-simbol) sehingga lebih mendekati tata cara Misa sebagaimana dirayakan oleh Bapa-bapa Gereja Barat (dalam beberapa aspek hal ini cukup benar sebagai perbandingan misalnya Misa pada zaman St. Agustinus memiliki 3 bacaan, meskipun dalam beberapa hal lainnya malah menjauh).

Sekalipun Thomas adalah teolog yang terhormat namun tidak berarti semua pandangannya benar, Thomas misalnya berargumen bahwa Komuni tidak dapat diterima secara layak di tangan, pendapat beliau tentu saja bertentangan dengan fakta sejarah mengenai Komuni di tangan.

Daniel P.

shevyn mengatakan...

Terimakasih Daniel,

Tanda salib, adalah kekayaan Gereja.

Dan St. Thomas, dengan tulisan -yang bisa salah itu- hendak menjelaskan, apa yang terjadi dalam kanon misa (pada saat itu, di jamannya dia hidup).

Kanon misa pada jaman dia itu, adalah yang nantinya dikodifikasi oleh Bapa Suci Pius V sbg Kanon Romawi (hingga bentuk sekarang, dalam forma ekstra ordniaria / tridentina), dan bentuk Kanon yang sama masih diteruskan hingga Bapa Suci Yohanes XXIII.


St. Thomas, atau siapa saja, bebas berpendapat apa saja mengenai simbol-simbol ini.
Akan tetapi, Gereja (Latin) hingga kini mengakui kedua bentuk misa ini (Tridentine, dgn segala pernik simbol dan pengulangannya; serta Novus Ordo, dengan kekhasan "singkat, sederhana, dan runtut" -meminjam istilahmu), sebagai bagian dari ritus yang sama (Latin).

Jadi?
Apa gunanya argumen "visi Vatikan II memurnikan tradisi Roma (menghapus pengulangan dan banyak simbol-simbol)" ?

Karena toh, kedua bentuk misa ini adalah bagian dari ritus Latin Gereja Katolik yang sama, bukan?

Hadirnya misa forma ekstraordinaria dengan "banyak simbol dan pengulangannya" tidak bisa lalu diartikan bahwa visi Konsili gagal.

shevyn mengatakan...

"Peristiwa di Altar Kudus" pada saat misa harus dimaklumi bisa di maklumkan dan dirasakan seluruh umat dgn "iman" jangan di artikan ibarat menonton sinetron di televisi....

================

Ahhh.. terima kasih Opa Beatus...

"jangan di artikan ibarat nonton televisi.. "
ini kami orang-orang muda ini memang harus banyak belajar lagi mengenai arti partisipasi aktif

Terima kasih Opa.. salam

Mikroba Starbio plus mengatakan...

bagus info nya
terus update info lain nya

Poskan Komentar

Selamat datang, silahkan post komentar atau saran Anda.
Komentar anti Katolik akan saya delete. Trims.
PS: gunakan pilihan Name/Url bila kesulitan menggunakan account.