Kamis, 29 April 2010

Hans Kung: Tahbisan perempuan, hapus selibat, dan 4 uskup anti Yahudi (SSPX)

Muncul di Tempo hari ini (29 April 2010)

Pengantar dariku:
Blog yang aku buat ini, tidak aku maksudkan untuk ber-apologetik.
Tapi yang diungkapkan oleh Hans Kung ini sungguh keterlaluan.
Pada bagian akhir, ada dia singgung (secara implisit) 4 uskup SSPX yang diterima kembali oleh Roma (dan umumnya, itulah senjata kaum "modernis" untuk menentang TLM).

++++++++++++++++++++++++++


Transkrip wawancara:
(bold untuk pertanyaan pewawancara, warna merah untuk highlight yang aku sorot)



PROFESOR HANS KUNG, PRESIDEN YAYASAN ETIKA GLOBAL


Ingatannya kuat dan bicaranya lantang. Dialah Romo Hans Kung, pastor berumur 82 tahun yang dikenal berseberangan dengan Gereja Katolik Roma. Hingga hari ini, ia tetap menjadi kritikus yang gigih terhadap kewibawaan Paus, yang disebutnya sebagai ciptaan manusia dan bukan sesuatu yang ditetapkan oleh Allah.
Lewat bukunya, Infallible? An Inquiry, Kung menolak doktrin infallible Paus. 
Karena itu, izin mengajarnya sebagai seorang teolog utusan Vatikan dicabut. Meski begitu, Profesor Kung tetap mengajar teologi ekumenis di Universitas Tübingen, Jerman, hingga pensiun pada 1996. Ia pun tetap menjadi imam Katolik Roma.

“Saya dikaruniai akal-pikiran, dan atas restu Tuhan, saya diberi keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit,”katanya kepada Tempo di Jakarta, Senin lalu. Kung dan Paus Benediktus sejatinya adalah kawan lama. Pada 1962, Kung dan Kardinal Josep Ratzinger (Paus Benediktus XVI) diangkat menjadi peritus oleh Paus Yohanes XXIII. Keduanya bertugas sebagai penasihat ahli teologi bagi para anggota dari Konsili Vatikan II hingga selesai pada 1965.


“Anda tahu kami memiliki pandangan yang berbeda,”ujarnya menanggapi hubungan yang tak sedap selama ini dengan Takhta Suci Vatikan. Namun, pada 2005, keduanya terlibat dalam diskusi bersahabat tentang teologi dalam sebuah makan malam bersama, sesuatu yang mengejutkan sejumlah pengamat.

Apa saja yang dibicarakan dengan Paus Benediktus? Lalu apakah hubungan yang telah pulih itu kini bercerai lagi setelah ia mendesak Paus bertanggung jawab atas skandal seks yang melibatkan para penginjil itu? Kepada Andree Priyanto, Idrus F. Sahab, Sapto Pradityo, dan Adek Media serta pewarta foto Yosep Arkian, Presiden Yayasan Etika Global—yang mengkampanyekan kesamaan di antara agamaagama dunia—ini bicara blakblakan. 

Kepada media asing Anda bilang Paus mesti bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual, mengapa?
Menurut saya, Paus harus bertanggung jawab. Dia bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual yang terjadi di gereja karena dia berupaya menutupinya. Lagi pula tak adil kalau Paus menyalahkan uskup Irlandia, yang tentu saja menutupi hal ini atas perintah Paus. Karena itu, menurut saya, penting untuk menyelidiki hal ini dan saya berutang kepada berjuta-juta umat Katolik untuk bicara hal ini.

Karena sudah menjadi budaya para uskup tak diperkenankan bicara secara terbuka tak terkecuali uskup Irlandia, yang tentu saja tak akan bilang,"Well, siapa yang mesti bertanggung jawab atas apa yang kami patuhi? Andalah yang bertanggung jawab, Bapa Suci."
Saya percaya ini tugas saya untuk bicara. Saya dikaruniai akal-pikiran, dan atas berkat Tuhan, saya diberikan keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit dan asal Anda tahu, saya sudah menunggu selama lima tahun, dan saya pikir inilah saat yang tepat bagi saya untuk bicara.

Apa akar masalahnya?
Sebenarnya selibat itu bukan satu-satunya penyebab kesalahan yang bermuara pada skandal pelecehan ini. Hal paling penting dan struktural yang paling menentukan ekspresi kecurigaan gereja terhadap seks. Kalau Anda lihat dalam Perjanjian Baru,Yesus dan Rasul Paulus melakukan selibat, tapi mereka tetap memberi kebebasan penuh kepada tiaptiap individu untuk memilih.

Jadi, apa solusinya?
Sederhana saja, hapus hukum selibat, yang merupakan akar dari segala kejahatan ini, dan terima pengakuan dari wanita untuk pentahbisan. Para uskup tahu hal ini, tapi mereka tak punya cukup keberanian untuk mengatakan kepada publik.
Setiap orang setuju bahwa aturan selibat hanyalah sebuah hukum gereja yang berasal dari abad ke-11 dan bukan suatu perintah Ilahi.

Komentar Paus?
Tentu saja dia tidak suka.Tapi tak apa, buat saya masyarakat gereja lebih penting daripada Paus. Saya tetap berada di lingkungan gereja Katolik semata karena berkomitmen kepada umat dan mereka yang beriman. Bukan karena hierarki dan lagi pula ini tak sejalan sebagaimana diwasiatkan dalam Perjanjian Baru.
Kalau Anda baca Perjanjian Baru, di situ jelas sekali disebutkan bahwa Yesus ingin melayani umat manusia. Karena itu, Paus sendiri bergelar Servus Servorum Dei (Pelayan Para Pelayan Ilahi).

Sesungguhnya apa motivasi Anda? 
Saya hanya ingin bicara jujur dan bukan membuat skandal. Jika Anda merasa ini akan disalahpahami, abaikan saja, karena tak akan ada gunanya. Orang perlu mengetahui kebenaran, tapi kalau kebenaran itu disalahartikan, itu berbahaya.

Apakah penyebabnya kepemimpinan tunggal di gereja Katolik?
Ya. Kekuasaan tunggal yang diperkenalkan di abad ke-11. Sampai saat ini kekuasaan tunggal itu masih dipakai oleh Kardinal Joseph Ratzinger (Paus Benediktus), memusatkan semua kasus pelecehan dalam dewan kepausan untuk doktrin iman atas isu ini.

Paus juga telah menulis surat, lebih dari sekali surat kepausan, yang menekankan kerahasiaan tertinggi (highest secrecy) di mana atas nama keyakinan, Anda dilarang berbicara ke luar dan karena masalah-masalah ini ada di dalam sistem yang menurut saya bukan sistem yang baik. Kuria Romawi memiliki kontrol atas dewan. Itu sebabnya muncul kesulitan karena uskup tak lagi bisa memutuskan sesuatu. Sistem ini sudah tak lagi bisa diadaptasi gereja yang memiliki lebih dari satu miliar pengikut di seluruh dunia.

Saya berharap Paus Benediktus cukup cerdas untuk mengoreksi ucapannya soal kondom—Paus Benediktus pernah mengatakan bahwa kondom bukanlah solusi mencegah penyebaran AIDS.
Di sini, saya kira, kami perlu mengoreksi sikap kami bahwa melarang pemakaian kontrasepsi dan kondom bu
kanlah sikap seorang kristiani yang baik. Sebagaimana juga dalam isu selibat.

Anda bertemu dengan Paus pada 2005, apakah ini upaya rekonsiliasi?
Seperti yang Anda tahu, kami memiliki pandangan yang berbeda.
Dia pemimpin Takhta Suci Vatikan, dia pernah menjadi Kuria Romawi, Kepala Kongregasi Doktrin Keimanan, dan saya sendiri pengusung teologi pembebasan. Saya menulis surat kepadanya setelah ia terpilih menjadi paus bahwa ada baiknya kita bertemu untuk bicara serius dan bukan sekadar basa-basi seremonial. Paus setuju dan kami bertemu di tempat peristirahatan paus di pegunungan Albania. Kami berbicara dari hati ke hati selama empat jam. Saya dijamu dengan baik. Kami bicara terbuka.

Bagaimana kelanjutannya setelah itu? Apakah hubungan Anda dengan Roma pulih?
Setelah pertemuan itu, kami kerap bertukar surat. Saya kirimi beliau artikel-artikel saya yang diterbitkan. Tentu saja beberapa hal mengkritik kebijakan gereja Roma, tapi beliau tetap menanggapi dengan positif. Situasinya menjadi sulit buat saya dan kebanyakan umat Katolik ketika ia menerima empat uskup di gereja yang tak punya legitimasi. Mereka, para uskup ini, tak hanya berada di luar gereja, tapi juga anti-Yahudi dan anti-Islam. Malah salah satunya menyangkal adanya Holocaust-genosida atau pembasmian etnis Yahudi selama Perang Dunia II.

Secara keseluruhan mereka menentang hubungan antaragama, mereka menentang Konsili Ekumenis Vatikan Kedua--yang membawa perubahan pada Gereja Katolik Roma pada 1962-1965--kebebasan beragama, liturgi (ibadah) baru, dan lain-lain. Karena itu, saya bilang kepada Paus mengapa bisa ia menerima orang-orang sejenis itu.
Paus merasa amat tercoreng oleh tudingan para ahli agama. Konsili Ekumenis Vatikan Kedua adalah otoritas tertinggi Gereja Katolik Roma, yang bahkan Paus pun tak bisa menentangnya.



(Screenshot halaman Tempo, klik pada gambar untuk memperbesar)



 +++++++++++++++++++

Komentarku:
Mea culpa... mea culpa... mea maxima culpa




11 komentar:

Jimmy Chino mengatakan...

gawat..

Anonim mengatakan...

Parah... Menentang Gereja tapi mengaku tetap Katolik.

shevyn mengatakan...

@Anonym:

bukan "mengaku Katolik" pak, tapi memang beliau masih aktif sebagai romo Katolik

Anonim mengatakan...

Sudah jelas kemana arah maksud dan tujuan Romo Hans Kung ini: Pendukng KB, Imam Menikah, Papal Infallible, dan yang terakhir anti-SSPX serta pembela KVII, jelas semuanya dimaksud bahwa Gereja Katolik kurang Modernis dan Liberal serta anti Tradisionalis. Gak heran kalau Univ Tubingen sendiri dikenal sebagai Univ Katolik asal muasal Modernisme dan Liberalisme

shevyn mengatakan...

^
sudahlah teman-teman, sabar :D
moga-moga Romo Hans Kung diberi kesehatan, panjang umur, dan ingatan yang baik....

jadi, biar ada waktu utk bertobat.
Kan ngga' ada kata terlambat untuk bertobat (walaupun akibat dosanya akan dihitung dengan cara tersendiri, dia kan romo, lebih tahu dari umat)

Man mengatakan...

Tak dpt dipungkiri, menyoroti kehidupan selibat bagi pemeluk agama Katolik, terlebih yg anti adalah sasaran empuk. Kekeliruan & kesalahan satu atau dua orang, jelas harus diperbaiki dan hanya didlm gereja Katolik aq yakin pasti diputuskan seadil2nya. Namun apapun komentar & pandangan umum menyangkut hidup selibat, bagi q yg beriman Katolik bahwa menjadi Suster, Bruder, Romo/Pastor, Uskup, Kardinal & Paus adalah pengorbanan (dgn hidup selibat sbg manusia normal & adakah pemimpin umat lain yg tdk menerima gaji/upah), demi untuk pengabdian & pelayanan pd Tuhan & sesama. Tangan2 inilah yg dipakai Tuhan utk mengkonsekrasi Ekaristi & yg memberikan Tubuh & Darah Tuhan Yesus serta memberkati q. JBU

Man mengatakan...

Tak dpt dipungkiri, menyoroti kehidupan selibat bagi pemeluk agama Katolik, terlebih yg anti adalah sasaran empuk. Kekeliruan & kesalahan satu atau dua orang, jelas harus diperbaiki dan hanya didlm gereja Katolik aq yakin pasti diputuskan seadil2nya. Namun apapun komentar & pandangan umum menyangkut hidup selibat, bagi q yg beriman Katolik bahwa menjadi Suster, Bruder, Romo/Pastor, Uskup, Kardinal & Paus adalah pengorbanan (dgn hidup selibat sbg manusia normal & adakah pemimpin umat lain yg tdk menerima gaji/upah), demi untuk pengabdian & pelayanan pd Tuhan & sesama. Tangan2 inilah yg dipakai Tuhan utk mengkonsekrasi Ekaristi & yg memberikan Tubuh & Darah Tuhan Yesus serta memberkati q. JBU

Anonim mengatakan...

Pemikiran maupun pendapat Romo Hans Kung ibarat kerikil tajam dalam perjalanan Gereja di dunia supaya lebih hati-hati, sadar dan rendah hati. Yang penting iman kepada Allah Tritunggal tidaklah menguap meski hanya dengan satu kritikan keras saja. Dkl, pertobatan terus-menerus itu perlu dikembangkan.

Anonim mengatakan...

... saya brsukacita trlahir, tumbuh, dan brkembang dalam iman katolik ...

Anonim mengatakan...

Dia seharusnya di exko, sejak lama. Entah kenapa uskupnya tenang2 aja

Anonim mengatakan...

Kalo pemikiran Hans Kung diaplikasikan oleh Gereja Universal, ...... gak kebayang deh...GK mundur ke abad 11..lebih banyak ngurusin masalah internal...gak bakal maju-maju.

Poskan Komentar

Selamat datang, silahkan post komentar atau saran Anda.
Komentar anti Katolik akan saya delete. Trims.
PS: gunakan pilihan Name/Url bila kesulitan menggunakan account.